Nonton WO Bharata

WO.. bukan wedding organizer, bukan juga walkover.

Tapi wayang orang. Iyes, Wayang Orang Bharata. Ada yang gak tahu? Silahkan di google dengan keyword Gedung Pertunjukan Wayang Orang Bharata Purwa.

Pengertian wayang orang itu sendiri kalian bisa google juga. Hehehe (tipe ngeblog males jelasin padahal tinggal copy paste).

Gue emang udah lama penasaran banget tentang WO Bharata ini. Ngajak teman sana sini gak ada yang mau. Gue harus maklum. Ini acara kebudayaan emang suka sedikit peminatnya jika dibandingkan dengan nonton black panther di bioskop XXI. Apalagi yang ditampilkan adalah budaya seni Jawa. Disampaikannya pun menggunakan bahasa Jawa halus kromo inggil. Yang gue gak ngerti, karena sanggupnya cuma sampai bahasa Jawa ngoko (kasar). FYI, my parents both came from Central Java so I used to listen bilingual language at home. One is Bahasa, and the other is Javanese of course. Though doesn’t make me speak Javanese fluently, but I do understand.

Continue reading “Nonton WO Bharata”

Advertisements

Tana Toraja, Mimpi Jadi Kenyataan (2)

Inhale… exhale… uhuuy akhirnya nyampe di toraja…

Maafin sikap norak gue diatas. Abis gak disangka ini terwujud juga seperti previous blog post. Perjalanan 8 jam dari Makassar yang ditempuh menggunakan bus malam seperti tak berasa. Iyalah selama perjalanan pada molor. Maaf gak foto interior bus tersebut namun boleh dicoba nih bus Metro Permai.

Kami disambut hujan gerimis sesampainya di kota Rantepao sekitar jam 6 pagi. Karena travelmate gue, Dita, sudah booking mobil beserta supirnya jadi langsung deh dijemput. Dengan harga Rp. 500.000 per 12 jam dan sudah termasuk bensin kami muter-muter Toraja. Karena gue sudah terbiasa pulang kampung waktu kecil dulu jadi lihat pepohonan hijau gak terlalu wow. Tapi tetep excited kok lihat batu-batu karst yang keren.

Continue reading “Tana Toraja, Mimpi Jadi Kenyataan (2)”

Jember Fashion Carnival 2016: Revival

Abis naik-naik ke puncak gunung, gue melanjutkan perjalanan ke kota Jember hanya untuk menonton parade kostum yang katanya bertaraf internasional. Gara-gara lihat iklan di internet ditambah baca blog orang, jadilah kami memaksa kaki untuk terus melangkah. Sekalian gitu maksudnya, mumpung masih di Jawa Timur. Dengan bekal salep otot geliga, mari lanjuuutt..

Waktu tempuh dari stasiun Malang menuju stasiun Jember sekitar lima jam. Lucunya (gue juga baru tahu) adalah kereta tawang alun ini berjalan balik arah di stasiun Bangil. Yang tadinya duduk menghadap ke depan jadi menghadap belakang. Karena perpindahan posisi lokomotif makanya transit di stasiun Bangil jadi agak lama. Orang-orang berhamburan keluar kereta dan ngacir keluar stasiun buat jajan cilok. Ini cilok terjauh yang pernah gue makan.

Continue reading “Jember Fashion Carnival 2016: Revival”