Tana Toraja, Mimpi Jadi Kenyataan (2)

Inhale… exhale… uhuuy akhirnya nyampe di toraja…

Maafin sikap norak gue diatas. Abis gak disangka ini terwujud juga seperti previous blog post. Perjalanan 8 jam dari Makassar yang ditempuh menggunakan bus malam seperti tak berasa. Iyalah selama perjalanan pada molor. Maaf gak foto interior bus tersebut namun boleh dicoba nih bus Metro Permai.

Kami disambut hujan gerimis sesampainya di kota Rantepao sekitar jam 6 pagi. Karena travelmate gue, Dita, sudah booking mobil beserta supirnya jadi langsung deh dijemput. Dengan harga Rp. 500.000 per 12 jam dan sudah termasuk bensin kami muter-muter Toraja. Karena gue sudah terbiasa pulang kampung waktu kecil dulu jadi lihat pepohonan hijau gak terlalu wow. Tapi tetep excited kok lihat batu-batu karst yang keren.

Continue reading “Tana Toraja, Mimpi Jadi Kenyataan (2)”

Main ke Museum Bank Indonesia

Di hari yang panas itu, kami memutuskan untuk jadi turis lokal kota Jakarta. Biar gak cuma wacana melulu kalau mau lihat-lihat kota tua. Awalnya mau ikut bis city tour tapi karena kurang persiapan alias males googling, akhirnya tujuan utama hanya ke kota tua. Dari daerah Ciputat naik bis transjabodetabek (gantinya bis APTB yang sudah dihapus) yang hanya sampai halte Blok M. Karena bis ini masih pakai bahan bakar solar, padahal di jalan Sudirman dan Thamrin sedang diadakan Car Free Day (gue pernah nyobain lho). Hanya bis yang berbahan bakar gas yang boleh lewat. Alhasil kami transit di Halte Blok M.

Ternyata si transjabodetabek ini mau masuk ke terminal musti muter-muter dulu. Mana macet pula. Mau protes juga gimana.. kan gak mungkin loncat dari bis cuma gara-gara gak sabar. Alhamdulillah menunggu bis transjakarta gak terlalu lama. Perjalanan berlanjut sampai halte Kota. Kami melewati jalan bawah tanah untuk menyebrang. Buat yang belum pernah lewat sini, tempatnya ramai kok. Tapi gak tahu yaa kalau malam hari. Jalurnya dihias daun-daun plastik gitu, bisa buat spot foto-foto. Ada banyak pedagang juga. Sayang gue gak ambil gambar pemandangannya. Kami beli roti buat ganjel perut yang mulai kukuruyuk. Lalu kami keluar menuju arah Museum Bank Indonesia.

Continue reading “Main ke Museum Bank Indonesia”

Pulang Kampung ke Kutoarjo

Pulang kampung atau mudik itu yang gue tunggu-tunggu setelah selesai puasa Ramadhan. Walaupun rumahnya berada di pelosok desa bukan di kotanya, tapi tetap bikin kangen. Perjalanan dari Ciputat dapat ditempuh menaiki bis Sumber Alam (langganan orang tua gue dulu kalau gak bawa mobil). Ini adalah sebagian kegiatan yang dapat kamu lakukan jika terdampar di kota kecil macam Kutoarjo, kampung halaman almarhumah nyokap gue.

Camera 360
ini-yang-asli

Continue reading “Pulang Kampung ke Kutoarjo”

Melarikan Diri ke Solo

April 2011 lalu, ada suatu ketika dimana kepala gue hampir pecah. Bukan dalam arti yang sebenarnya, tapi rasanya suntuk luar biasa. I have to escape now!! Terus gue memutuskan akan mengunjungi teman sejak SMP, Nur Widiya, yang sedang melanjutkan kuliah di Solo. Niatnya sih sudah dari lama mau main kesana, hanya momen yang pas belum datang.

Sebelum berangkat gue cari-cari informasi ke teman gue itu. Setelah dipikir-pikir, karena gue berangkat sendiri, maka moda perjalanan gue ke Solo mencontek apa yang biasa digunakan oleh dia. Jadilah gue memesan tiket bus malam Rosalia Indah, di pool daerah Ciputat karena dekat rumah, tipenya super eksekutif. Pertama kali keluar kota naik bus sendirian, yeaayy..

Ini pertama kali gue naik bus super eksekutif. Alasan teman gue, kalau kita jalan sendirian transportasinya musti yang nyaman. Harganya emang mahal namun interior busnya oke. Hanya satu yang gue kurang suka, AC-nya dingin banget. Disarankan memakai kaos kaki walau nanti diberikan selimut.  Continue reading “Melarikan Diri ke Solo”

Amazing Dieng

Going for hike for the first time. Itenary sudah dibuat oleh teman kantor, dan ketika gue ditawarin langsung mau. Istilahnya aji mumpung hehehe. Mumpung ada yang mikirin perjalanannya kita tinggal ngikut aja. Teman gue bilang kita bakal padat banget acaranya, gue jawab gak apa-apa. Jadilah enam cewek-cewek beraksi di luar kota (gue sendiri, Enjel, Dian, Dita, Devina, dan satu lagi lupa namanya, maaf yaa).

Kami cabut dari kantor jam empat sore menuju stasiun Pasar Senen, naik kereta malam supaya esok pagi sudah di stasiun Tawang Semarang. Dijemput oleh mantan teman sekantor kami, Sherly. Dia bawa kita muter-muter kota terus ke Hotel Simpang Lima Residences. Kamarnya lucu ada aquarium berisi ikan hias pada dinding sekat kamar mandi dengan kamar tidur.

Continue reading “Amazing Dieng”