Itu Panu Yah? Bukan Ini Vitiligo

I’ve received a lot of questions like that..

Tapi gak apa.. Namanya gak tau, wajar nanya-nanya..

Iya ini namanya vitiligo. Iya, gue udah pernah cek ke dokter kulit. Kata dokternya ini sulit disembuhkan, dan dirujuk ke tempat prakteknya di Erha Clinic. Jujur dompetku tak mampu, jadi gak diterusin. Terus cari-cari info di internet, dan tahu bahwa vitiligo ini gak berbahaya tapi emang gak bisa sembuh. Dia akan menyebar secara perlahan.

Apa sih vitiligo? Berdasarkan pengetahuan awamku, ini penyakit kulit yang mematikan pigmen kulit. Perlindungan kulit jadi berkurang terhadap sinar matahari. Dan warnanya jadi lebih putih dari normalnya. Kayak panu hahaha. Oh gak cuma kulit, rambut-rambut yang kena efek vitiligo pun jadi warna putih. Pigmennya hilang juga.

Awalnya gue ngedumel dalem hati, kenapa musti di muka sih. Tapi lambat laun yaa pasrah. Mau gimana lagi.. Lagian gue gak sendiri di dunia ini. Walaupun jarang ditemui, tapi ini umum di seluruh dunia.

Jadi jangan nanya lagi itu panu apa bukan yah.. 😀

FYI, semenjak vitiligo jadi pake make up mata tiap keluar rumah. Karena alis sebagian rambutnya putih, jadi ditutupi pensil alis. Kulit kelopak mata putih sebelah, tutupi dengan eyeshadow. Yang paling mencolok, bulu mata di mata kiri gue udah putih semua warnanya hahaha, kudu pake mascara waterproof deh.

Gelisah

Di Jumat yang cerah, perjalanan menuju daerah Sudirman terasa berat. Terlalu kontras dengan keceriaan langit. Biasanya gue bahagia saat ngantor di akhir weekdays ini. Suasana yang menyenangkan dan cenderung santai, sejalur dengan diperbolehkannya pakai celana jeans. Yah itu dulu. Ngantor versi sekarang mah gak bisa merasakan itu. Malah seringnya sedih. Gue pikir karena faktor ‘suasana menyenangkan’ yang hampir gak terasa. Gue gak terbiasa dengan kerja kaku begini. Gue terbiasanya tuh ada waktu jeda istirahat di tengah minggu, supaya otak gak di forsir. Dan yang bagian sedihnya adalah saat melihat transferan gaji tiap akhir bulan. Menurut gue ini gak seimbang dengan beban kerja saat ini.

Kemudian gue gak sengaja nonton video lama dari Merry Riana. Cekidot deh..

Continue reading “Gelisah”

Meracau

Luamaa banget gak nulis di blog ini. Apakah gue sudah jadi generasi instan.. Yang senengnya nonton vlog ketimbang baca. Hmm tak tahu.. Tapi dengan alasan kesibukan bekerja, membuat hasrat untuk berkarya jadi terlupakan. Bekerja pun nyatanya tidak membuat hati gue bahagia. Sehingga kerinduan untuk nulis apapun, termasuk menumpahkan uneg-uneg, jadi kepikiran. Bicara tentang rasa kesal dalam dada, yang semakin menumpuk, mau gue tumpahin aja disini. Biarin dianggap labil, alay, katrok, tapi gue butuh pelampiasan. Hehehe. Eh tapi bukan biar dikomentari banyak orang ya, sekedar mencari wadah yang pasti menerima (iyalah ini aplikasi kan benda mati) juga biar gak sia-sia udah maintain blog ini dari lama. Mencari eksistensi? Hmm.. Iya juga, tapi bukan kepada manusia. Karena berharap pada manusia hanya menyebabkan kecewa. Berharaplah pada sang maha pencipta seluruh alam.

Continue reading “Meracau”

Hiburan MurMer di Museum Layang-Layang

Ketika pikiran penat, pengen cari hiburan yang murah meriah selain mall. Apa yah.. museum? Hmm.. Museum merupakan tempat hiburan yang anti mainstream. Dalam arti, bukan untuk semua orang. Alias gak semua orang demen.

Tapi gue mau coba-coba. Sekalian menghargai effort pengurusnya untuk memelihara warisan bangsa.

Rencana sih jalan-jalan melepas penat pekerjaan, tapi gak tahu mau kemana. Terus kita kepikiran buat datang ke Museum Layang-Layang. Kita tuh expect nothing. Gak googling dulu ini tempatnya kayak apa hehehe.

Setelah kita datangin ternyata museum ini kids friendly banget. Dan emang tujuan museum ini buat edukasi terutama anak-anak. Gue ngerasa terlalu tua untuk menikmati hiburam macem gini, tapi cuek aja lah. Tanggung udah sampe sini. Kita beli tiket paling murah yaitu Rp 15.000 bisa nonton video sejarah layang-layang kurleb 15 menit, lihat museumnya dipandu oleh mas guide, dan terakhir bikin lanyangan.

Bocah-bocah mesti seneng deh main kesini. Gue aja jadi pengen dateng ke festival layang-layang.. yang di pantai terus ada layangan segede gaban gitu.

Continue reading “Hiburan MurMer di Museum Layang-Layang”

Ulang Tahun – Refleksi Diri

I’m growing old! Hmm sulit menentukan emosi, apakah harus senang atau sedih. Karena bercampur dikeduanya. Sebulan terakhir ini suasana hati beneran terbolak-balik.

Terlalu banyak yang dipikirkan serta dipertimbangkan. Dari paling penting sampai paling gak penting. Rasa khawatir yang begitu besar telah menyelubungi asa yang mustinya ada. Akankah gue bahagia? Pada akhirnya bagimana? Akhirnya sih kita semua menghadap Sang Maha Pencipta sih. Tapi bukan itu yang gue harapkan menjadi jawabannya.

Maksud gue selama mengarungi kehidupan biasanya suka ada momentum, checkpoint, kejadian, atau apapun sebutannya, yang kerap hadir sebagai sebuah tanda perubahan. Dan ulang tahun adalah salah satunya. Nah di titik itu apakah gue berubah menjadi lebih baik, dewasa dan bahagia? Jadi mikir..

Continue reading “Ulang Tahun – Refleksi Diri”

Warna-Warni Kesukaan

Pantone udah merilis colour of the year of 2018 yaitu ultra violet, ungu-ungu deep dusty gitu. Ini warna kesukaan gue banget dari jaman SMP. Jadi dulu itu ceritanya di dalam pertemanan genk SMP, ada pemilihan warna favorit. Setiap anak musti beda gak boleh nyama-nyamain. Gue pilih warna ungu dong, secara suka dan jarang yang milih. Hahaha such a memory.

Beranjak dewasa, semakin meluas nih spektrum fashion sense. Jadi makin beragam deh tuh kesukaan..

Ini nih favorite gue..

1. White shirt with blue jeans. Basic but best.

2. Clean cut, romantic, edgy, elegant. Mungkin empat hal ini bisa mendeskrisikan tipe fashion kesukaan gue.

3. Black is the new black. Nothing can replace black color. Period.

4. I love neutral color. Entah kenapa gue lemah sama warna dusty pink dan nude.

5. Glitter all the way. Something sparkly, glitzy, bling bling.. uuugghhh gak kuat..

6. Classic. You know classic is never wrong choice.

7. Etnik juga suka. Gue suka batik dan lukisan tangan.

8. Dark red or maroon. This is the newest favorite, i found red is amazing in the right way.

9. Stripe blue shirt. Ini dipadukan dengan warna putih, duh kelihatan keren instan deh.

Samaan gak gengs?

Makan Apa di Jepang (2)

Selain makanan berat di postingan sebelumnya, kami beli beberapa makanan siap saji pengganjal perut yang dibeli di minimart terdekat. Tokonya banyak kok disana, hampir tiap kelurahan mungkin. Kalau disini semacam indoapril atau alfamei gitu lah. Hampir segala rupa barang kecil-kecil dijual.

IMG_20180511_064021.jpg

Ini onigiri biasa tapi isinya telur ikan salmon, nama kerennya salmon roe filling. Sebenernya isian onigiri tuh ada banyak macemnya, tapi karena takut non halal yaa ambil yang mainstream aja. Gue beli ini dan yang isi natto (lupa difoto). Beli karena penasaran. Rasanya? telur ikannya terlalu lembek menurut gue. Apa karena digencet dalam nasi jadinya gak meletus di mulut yah.. terus rasanya cenderung asin. Nah yang natto nih.. rasanya aneh menurut gue. Aftertastenya pahit gitu di mulut. First time banget lihat dan makan natto juga sih, jadi gak punya komparasinya. Misalnya makan yang versi freshnya mungkin lebih enak.

Continue reading “Makan Apa di Jepang (2)”

Makan Apa di Jepang (1)

Nyari makanan halal di Jepang gampang-gampang-susah. Karena memang kami gak prepare spesifik mau makan apa, so mengandalkan google maps aja.

Makanan apa sih yang mudah dan murah, dan paling sering dicari orang.. onigiri! Untuk onigiri sendiri, gue lebih suka yang beli di Lawson dari pada di Seven Eleven. Yang beli di Daily Yamazaki, Shirakawa-go, juga enak. Pilihan rasa pun gak jauh-jauh, salmon flake dan tuna mayo.

Tapi selain onigiri yang terkenal bagi para backpacker, inilah makanan yang kami makan.

IMG_20180509_181859.jpg

Kota pertama yang kami singgahi adalah Osaka. Nah di sekitaran area Dotonbori, ada Naritaya Ramen. Ramennya halal. Di foto kelihatannya sedikit yaa, tapi aslinya kenyang banget padahal pilih porsi reguler. Toppingnya rame banget.. ada daging ayam, telur, sayuran, selembar nori dan potongan tipis-tipis warna putih yang gue gak tahu namanya. Enak. Kuah kaldu dan mienya gue suka. Lucunya hampir seluruh tamunya tuh orang Indonesia.

Minusnya buat gue.. yaa jadi gak berasa di Jepang. Lagu yang diputar aja Akad-nya Payung Teduh hehe. Teh hijaunya enak, gak bau amis atau aneh-aneh. Dimeja juga sudah disediakan air putih pakai es. Kayaknya di Jepang air putih tuh disajikan dingin gitu, bukan suhu ruangan. Tambah pesan fried gyoza, yang rasanya biasa aja.

Continue reading “Makan Apa di Jepang (1)”

Quotes!

Yang sudah gue rasakan:

Travel brings power and love back into your life. – Rumi

Yang mungkin akan gue rasakan:

When you are everywhere, you are nowhere. When you are somewhere, you are everywhere. – Rumi

Emang yang kedua ini maksudnya apa sih?? ehehehehe