Mau Nikah – Bagian 1

Buat yang mau mengurus administrasi pernikahan, berikut pengalaman gue yang mudah-mudahan bisa menjadi pencerahan buat kamu-kamu calon pengantin..

Pertama. Minta blanko surat pernyataan belum pernah menikah. Bisa ke KUA atau RT RW kalau ada. Karena pada surat pernyataan ini, perlu cap dari RT dan RW tempat tinggal kamu.

Kedua. Minta surat pernyataan mau menikah ke RT, dan di tanda tangani oleh ketua RT dan ketua RW.

Ketiga. Lengkapi semua persyaratan, termasuk fotokopi KTP, ijazah terakhir, akte lahir, kartu keluarga dan foto background biru ukuran 2×3 sebanyak 4 lembar dan 4×6 sebanyak 2 lembar.

Keempat. Kumpulkan semua berkas itu ke kelurahan. Nanti kelurahan akan mengeluarkan surat pernyataan.

Kelima. Pengecekan kesehatan di puskesmas atau klinik swasta juga bisa. Demi pengiritan biaya, gue ke puskesmas sesuai domisili KTP biar grratisss. Minta sertifikat kesehatan calon pengantin jangan lupa. Perempuan sih cuma cek tensi, cek darah untuk HIV, dan suntik TT.

Keenam. Kalo kamu yang numpang nikah, kayaknya harus ke kecamatan. Kalo gue, engga. Karena gak numpang nikah.

Ketujuh. Ajukan seluruh berkas ke KUA. Tapi.. Udah rembukan sama keluarga yak! Mau nikah di tanggal dan jam berapa.

Sekian. Semoga bermanfaat.

#mudahbukan #alasiscasoewitomo

Me, Myself, and I

Gue pernah hidup dalam kebencian, beberapa tahun yang lalu, selama satu tahun penuh. Sampai gue memutuskan untuk berubah, hidup dengan melupakan rasa sakit dan dendam, sehingga hati lebih tenang dan tidur lebih nyaman. Kebayang gak sih selama setahun tidur gelisah, tiap hari rasanya marah-marah.. capek! Makanya di tahun 2012 (atau 2013 yah), resolusi tahun baru gue adalah i want to change, because this hatred I’ve maintained inside my heart and brain, slowly killing me. Its enough for the one f**king whole year. After I set my own resolution, I started to change. The way I feel and react towards everything, has changed. Then on that year I feel less anxious and more happy. Of course, the pain is still there but I tried to ignore.

Continue reading “Me, Myself, and I”

Bukber Rame-Rame

Sekedar sharing pengalaman buka puasa bersama di masjid Jogokariyan. Di Jogja banyak masjid mengadakan buka puasa bersama dan terbuka umum. Dalam istilah masyarakat misqueen seperti gue bacanya makan gratis di tiap hari selama bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh kita bisa nyobain bukber di banyak masjid nih.

Yah namanya gratis, antusiasnya jadi meningkat. Ruamee poll. Nih foto-fotonya..

Di hari itu makanan yang dibagikan adalah sepiring nasi putih, kuah soto, beberapa potong daging sapi yang sudah dibumbui, dan kerupuk udang. Minumnya air putih aja. Sederhana tapi somehow enak!

Karena datang terlambat, gue gak kebagian tempat duduk akhirnya jongkok di gang samping masjid bareng anak-anak muda lainnya. (iya anggap gue masih muda hahaha).

Magis Magelang: Waisak 2019

One of my bucket list, ticked! yeay.. #lightofpeace2019

Pagi hari di tanggal 18 Mei, dari terminal Jombor Yogyakarta naik bis Cemara Tunggal turun di candi Mendut, bayarnya 15ribu. Memang bis ini trayeknya terminal Jombor sampai Borobudur. Gue turun di depan Mendut persis, terus kaget kedinginan. Ternyata Magelang pagi-pagi masih berkabut ya bok. Di Mendut ini kita beli tiket untuk menghadiri kegiatan Waisak baik sebagai umat Budha maupun sebagai wisatawan. Untuk wisatawan loket dibuka jam 10:00, sementara menunggu muter-muter aja liat souvenir yang dijual sekitaran candi Mendut. Jangan lupa nawar ya. Biasa kan tempat wisata gitu suka naikin harga.

Continue reading “Magis Magelang: Waisak 2019”

Itu Panu Yah? Bukan Ini Vitiligo

I’ve received a lot of questions like that..

Tapi gak apa.. Namanya gak tau, wajar nanya-nanya..

Iya ini namanya vitiligo. Iya, gue udah pernah cek ke dokter kulit. Kata dokternya ini sulit disembuhkan, dan dirujuk ke tempat prakteknya di Erha Clinic. Jujur dompetku tak mampu, jadi gak diterusin. Terus cari-cari info di internet, dan tahu bahwa vitiligo ini gak berbahaya tapi emang gak bisa sembuh. Dia akan menyebar secara perlahan.

Apa sih vitiligo? Berdasarkan pengetahuan awamku, ini penyakit kulit yang mematikan pigmen kulit. Perlindungan kulit jadi berkurang terhadap sinar matahari. Dan warnanya jadi lebih putih dari normalnya. Kayak panu hahaha. Oh gak cuma kulit, rambut-rambut yang kena efek vitiligo pun jadi warna putih. Pigmennya hilang juga.

Awalnya gue ngedumel dalem hati, kenapa musti di muka sih. Tapi lambat laun pasrah. Mau gimana lagi.. Lagian gue gak sendiri di dunia ini. Walaupun jarang ditemui, tapi ini umum di seluruh dunia.

Jadi jangan nanya lagi itu panu apa bukan yah.. 😀

Fyi, semenjak vitiligo jadi pake make up mata tiap keluar rumah. Karena alis sebagian rambutnya putih, jadi ditutupi pensil alis. Kulit kelopak mata putih sebelah, tutupi dengan eyeshadow. Yang paling mencolok, bulu mata di mata kiri gue udah putih semua warnanya hahaha, kudu pake mascara waterproof dah.

Gelisah

Di Jumat yang cerah, perjalanan menuju daerah Sudirman terasa berat. Terlalu kontras dengan keceriaan langit. Biasanya gue bahagia saat ngantor di akhir weekdays ini. Suasana yang menyenangkan dan cenderung santai, sejalur dengan diperbolehkannya pakai celana jeans. Yah itu dulu. Ngantor versi sekarang mah gak bisa merasakan itu. Malah seringnya sedih. Gue pikir karena faktor ‘suasana menyenangkan’ yang hampir gak terasa. Gue gak terbiasa dengan kerja kaku begini. Gue terbiasanya tuh ada waktu jeda istirahat di tengah minggu, supaya otak gak di forsir. Dan yang bagian sedihnya adalah saat melihat transferan gaji tiap akhir bulan. Menurut gue ini gak seimbang dengan beban kerja saat ini.

Kemudian gue gak sengaja nonton video lama dari Merry Riana. Cekidot deh..

Continue reading “Gelisah”

Meracau

Luamaa banget gak nulis di blog ini. Apakah gue sudah jadi generasi instan.. Yang senengnya nonton vlog ketimbang baca. Hmm tak tahu.. Tapi dengan alasan kesibukan bekerja, membuat hasrat untuk berkarya jadi terlupakan. Bekerja pun nyatanya tidak membuat hati gue bahagia. Sehingga kerinduan untuk nulis apapun, termasuk menumpahkan uneg-uneg, jadi kepikiran. Bicara tentang rasa kesal dalam dada, yang semakin menumpuk, mau gue tumpahin aja disini. Biarin dianggap labil, alay, katrok, tapi gue butuh pelampiasan. Hehehe. Eh tapi bukan biar dikomentari banyak orang ya, sekedar mencari wadah yang pasti menerima (iyalah ini aplikasi kan benda mati) juga biar gak sia-sia udah maintain blog ini dari lama. Mencari eksistensi? Hmm.. Iya juga, tapi bukan kepada manusia. Karena berharap pada manusia hanya menyebabkan kecewa. Berharaplah pada sang maha pencipta seluruh alam.

Continue reading “Meracau”

Hiburan MurMer

Ketika pikiran penat, pengen cari hiburan yang murah meriah selain mall. Apa yah.. museum? Hmm.. Museum merupakan tempat hiburan yang anti mainstream. Dalam arti, bukan untuk semua orang. Alias gak semua orang demen. Tapi gue mau coba-coba. Sekalian menghargai effort pengurusnya untuk memelihara warisan bangsa.

Rencana sih jalan-jalan melepas penat pekerjaan, tapi gak tahu mau kemana. Terus kita kepikiran buat datang ke Museum Layang-Layang. Kita tuh expect nothing. Gak googling dulu ini tempatnya kayak apa hehehe. Setelah kita datangin ternyata museum ini kids friendly banget. Dan emang tujuan museum ini buat edukasi terutama anak-anak. Gue ngerasa terlalu tua untuk menikmati hiburam macem gini, tapi cuek aja lah. Tanggung udah sampe sini. Kita beli tiket paling murah yaitu Rp 15.000 bisa nonton video sejarah layang-layang kurleb 15 menit, lihat museumnya dipandu oleh mas guide, dan terakhir bikin lanyangan. Bocah-bocah mesti seneng deh main kesini. Gue aja jadi pengen dateng ke festival layang-layang.. yang di pantai terus ada layangan segede gaban gitu.

Continue reading “Hiburan MurMer”

Ulang Tahun – Refleksi Diri

I’m growing old! Hmm sulit menentukan emosi, apakah harus senang atau sedih. Karena bercampur dikeduanya. Sebulan terakhir ini suasana hati beneran terbolak-balik.

Terlalu banyak yang dipikirkan serta dipertimbangkan. Dari paling penting sampai paling gak penting. Rasa khawatir yang begitu besar telah menyelubungi asa yang mustinya ada. Akankah gue bahagia? Pada akhirnya bagimana? Akhirnya sih kita semua menghadap Sang Maha Pencipta sih. Tapi bukan itu yang gue harapkan menjadi jawabannya. Maksud gue selama mengarungi kehidupan biasanya suka ada momentum, checkpoint, kejadian, atau apapun sebutannya, yang kerap hadir sebagai sebuah tanda perubahan. Dan ulang tahun adalah salah satunya. Nah di titik itu apakah gue berubah menjadi lebih baik, dewasa dan bahagia? Jadi mikir..

Continue reading “Ulang Tahun – Refleksi Diri”

Warna-Warni Kesukaan

Pantone udah merilis colour of the year of 2018 yaitu ultra violet, ungu-ungu deep dusty gitu. Ini warna kesukaan gue banget dari jaman SMP. Jadi dulu itu ceritanya di dalam pertemanan genk SMP, ada pemilihan warna favorit. Setiap anak musti beda gak boleh nyama-nyamain. Gue pilih warna ungu dong, secara suka dan jarang yang milih. Hahaha such a memory. Beranjak dewasa, semakin meluas nih spektrum fashion sense. Jadi makin beragam deh tuh kesukaan..

Ini nih favorite gue..

1. White shirt with blue jeans. Basic but best.

2. Clean cut, romantic, edgy, elegant. Mungkin empat hal ini bisa mendeskrisikan tipe fashion kesukaan gue.

3. Black is the new black. Nothing can replace black color. Period.

4. I love neutral color. Entah kenapa gue lemah sama warna dusty pink dan nude.

5. Glitter all the way. Something sparkly, glitzy, bling bling.. uuugghhh gak kuat..

6. Classic. You know classic is never wrong choice.

7. Etnik juga suka. Gue suka batik dan lukisan tangan.

8. Dark red or maroon. This is the newest favorite, i found red is amazing in the right way.

9. Stripe blue shirt. Ini dipadukan dengan warna putih, duh kelihatan keren instan deh.