Gue pernah burnout parah sampai-sampai gue membenci gedung kantor tempat gue bekerja. Padahal apa salah bangunan itu ya. Hahaha. Pokoknya sebel. Sebel banget malah. Eh udah pada ngerti kan arti dari burnout. Intinya lelah level muak, begitu.

Untuk kasus gue.. Sejujurnya gue gak tahu sih akar masalahnya apa. Cuman gue bisa merunut dan mengira-ngira penyebab terjadinya burnout pada diri gue. Tiap orang pasti berbeda yaa.. Tapi kalau ada yang sama mungkin kita ditakdirkan curhat bareng. Hahaha.

Jauh sebelum terjadinya burnout, gue punya trauma yang terpupuk semenjak gue masih cilik. Mungkin istilahnya unfinished inner child problem. Aelah sok enggres nih gue. Ada kekecewaan kecil, berkali-kali, berulang-ulang, dan bukannya ngomong atau protes atau kompromi, malah gue pendam. Teruuss gue pendam bertahun-tahun. Tanpa sadar gue bawa sampai usia dewasa.

Kenapa unfinished? Ya karena gue gak pernah nyari solusinya apaan. Gue repress aja terus. Dan sebagai penggantinya gue mencoba meyakinkan diri ala-ala superhero syndrome. (Gak persis superhero syndrome sih, tapi kira-kira begitu). Bukannya ngeberesin dapur sendiri, gue malah mencoba baik banget ke semua orang. Ke teman dibela-belain kudu apik dan melayani, gak peduli ke diri sendiri. Bukannya bersih-bersih batin dan pikiran supaya bening, malah menganggap diri gue itu kuat. Tegar menghadapi cobaan dan rintangan.

Gue sempet bilang ke diri sendiri, “gue bisa, gue kuat, dan gak butuh bantuan orang lain”. “Gak bakal ada yang ngertiin gue”. “Gak mungkin orang lain mau bantuin gue”. “Orang lain udah punya urusannya masing-masing, masa sih ada yang mau ngurusin gue”. Dan masih banyak lagi.. Oh gue juga sempet punya gangguan kepercayaan diri yang (menurut gue) parah, dan gangguan untuk bisa percaya kepada orang lain, termasuk orang tua.

Kalau ditanya apa sih unfinished issue gue itu.. Sepele-sepele sih, genks. Cuman yang sepele itu bisa membesar kalau gak disikapi dengan baik. Apalagi dipendem tahunan. Bikin penyakit! Nih kemungkinannya, pertama kali gue kecewa adalah saat gue punya adik dan perhatian orang tua yang tadinya full buat gue eh berkurang karena terbagi. Lalu saat orang tua gue tidak mendengarkan keinginan gue untuk kuliah DKV. Atau saat gue mau nabung buat ambil S2 dan emak engga ngedukung. Masih banyak lagi gak mungkin dijembrengin semua.

Seinget gue ada salah satu blogpost yang menceritakan bahwa gue pernah kecewa berat dan menyimpan kebencian dalam hati selama setahun. Ya itu salah satu kekecewaan gue yang terbesar.

Jujur gue gak tahu dalam seumur hidup gue ini apakah gue pernah depresi. Apakah ini bisa dikategorikan sebagai depresi. Soalnya belum pernah konsultasi ke psikolog atau psikiater. Dan media curhat paling baik untuk gue adalah menulis. Entah di kertas bekas, buku diary (dulu rajin makin tuwir makin malas haha), dan blog ini. Karena di usia dewasa ini gue belum ketemu sahabat yang bisa gue percaya buanget. Alasannya, satu, gue punya masalah dengan kepercayaan, dua, teman-teman kantor kan waktu ketemunya cuma di kantor, tiga, teman-teman terdekat gue punya kesibukan di bidang yang berbeda. Gue merasa gak mungkin ujug-ujug dateng untuk curhat dalem banget karena merasa kehidupan kami sudah berbeda.

Tapi tong sampah aja ada kapasitasnya yak. Apalagi batin dan pikiran. Ini sampah perasaan udah waktunya luber kali ya. Pada tahun 2020 awal sampai pertengahan, gue limbung. Saatnya untuk vulnerable dan tidak sok superman lagi. Tumpukan emosi itu akhirnya gue hadapi satu persatu. Dan gue mencoba berdamai dengannya. Ungkapkan-hadapi-maafkan. Ada nih gue tulis.

Tadi gue sebut bahwa memendam sampah perasaan menahun itu bikin penyakit. Itu serius beneran. Gue pernah baca, depresi bisa memicu gangguan otak dan saraf. Nah lho. Jangan-jangan gue sering lupa karena… XD

Jadi gimana mengatasi sekumpulan trauma dari masa kecil hingga saat ini? Gue masih menggunakan cara paling sederhana tadi. Ungkapkan-hadapi-maafkan. Mungkin ada cara yang lebih bagus, tapi gue belum googling lebih lanjut. Hehe. Yak silahkan manfaatkan smartphone masing-masing.

Kembali ke burnout diatas. Gue merasa kondisi tersebut adalah puncaknya, pecahnya, ambyarnya, kondisi psikis gue. Mungkin kalau gak burnout, gue masih denial atas kegelisahan dan beban batin gue sendiri. Gue masih cheerful outside, frustrated inside. Ditutupi dengan mindset ‘harus kuat’ padahal sebenernya lagi ngebully diri sendiri.

EMANG KENAPA KALAU GUE KECEWA? GAK ADA YANG SALAH DENGAN ITU.

Dan seiring waktu, gue berusaha berdamai.

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.