Aku ingin free dari keterbatasan ekonomi, batinku seraya memandang hilir mudik mbak-mbak berkulit bening di mall. Wajah mereka sama sekali tidak menunjukan kekhawatiran jumlah saldo tabungan. Penuh senyum dan kibasan rambutnya itu lho, terlihat lembut dan bebas.

Aku yang duduk di tempat duduk umum, melihat nanar pada tentengan belanjaannya. Ah seandainya aku bisa memiliki kenikmatan duniawi itu. Jangankan isi dompet, narik uang di atm saja aku deg-degan. Mana nyali aku berbelanja di toko-toko mall ini.

Oh juga mereka yang sedang senda gurau di merchant makanan minuman. Sungguh lahap dan asyik menikmati kelezatan yang di suguhkan. Entah apa yang diobrolkan, yang pasti bukan harga di buku menu. Ah seandainya aku bisa merasakan kebahagiaan duniawi itu.

Aku duduk melihat pemandangan itu semua dan membanding-bandingkan nasib, aku dibandingkan mereka.

Sesaat kepalaku pening, dadaku sesak, dan timbul rasa sedih. Beberapa menit rasa-rasa itu menusuk semakin dalam, sampai akhirnya aku tersadar.

Dimana letak syukurku? Apa kabar dengan resolusi self-loveku? Aku berkata pada diriku sendiri, sudahlah tak perlu meratapi keadaan. Karena bahwasanya tuhan sebaik prasangka umatnya.

Cerita ini dikarang saat saya butuh membunuh waktu di sebuah mall besar kota Jakarta. Bukan curahan hati, suer deh. Hanya mengambil angle jikalau saya adalah tokoh tersebut.

#bukancurhat #ceritapendek

(Kayaknya nice juga deh ngarang cerpen sembari nonton orang lalu lalang. Bisa dicoba di lain kesempatan)