Radio itu cinta pertama. (nostalgic song backsound playing tssaahhh)

Seinget gue.. menikmati siaran radio dimulai dari jaman sekolah, SMP kalau gak salah. Yaitu radio Prambors dan Mustang. Yang seterusnya gue lebih sering jadi pendengarnya Mustang, saat penyiarnya Rico Ceper dan Bedu di jam siaran pagi. Ketawa-ketawa dengernya, sampai nyokap gue kadang-kadang ngintip curiga kenapa gue ketawa sendiri. Kemudian beralih ke radio Hardrock dengan penyiarnya Pandji Pragiwaksono dan Steny Agustav, kalau gak salah inget ini pas gue udah kuliah.

Mesti diakui bahwa jadi pendengar radio ada manfaatnya. Selera musik pop jelas gak ketinggalan jaman, narasumber yang diajak ngobrol juga nambah wawasan, selain juga menjadi alay bin receh pada masanya karena penyiarnya kocak. Yang paling penting adalah, menurut gue, dengerin radio gak ngebosenin. Kita tuh kayak ditemenin sama penyiar-penyiarnya yang cerdas bawain acara. Sesederhana dengerin mereka ngobrol aja udah menghilangkan jenuh dan kesepian.

Banyak radio lain yang gue dengerin, gak cuma Mustang, Prambors sama Hardrock. Apa aja yah.. Banyak pokoknya. Gue sampai hapal gelombangnya dulu, karena di save di playlist radio. Tapi pas pakai radio di kamar (dulu gue punya radio) yang sistemnya diputer nyari gelombang, itu gue juga hapal mana aja yang favorit. Ahh sungguh nostalgia.

Gue menganggap kebiasaan gue ini karena ketularan bokap yang suka nyetel radio tiap nyetir di mobil. Tapi bokap gue kan hobinya radio Delta, yaa gak masuk selera gue saat itu. Tapi melihat bokap sering cari-cari gelombang, mungkin jadi terpatri di otak gue.

Gue tuh baru kenal podcast semenjak ngerti Spotify, tahun 2017 lah. Katrok, i know. Itu juga dikenalin teman kantor hahaha. Awalnya cuma dengerin lagu aja, terus coba-coba browsing podcast yang populer. Hmm boleh juga nih, gue pikir. Kalau di radio ada selingan lagu, berita, iklan dsb., sedangkan podcast full dengerin orang ngomong satu arah maupun dua arah. Gak membosankan kok, asal topiknya cocok di telinga masing-masing ya.

Dari pengalaman gue, podcast via Spotify kelebihannya adalah walaupun pakai versi gratis dia gak ada iklan muncul tiba-tiba di tengah streaming (macam video Yutub yang dimonetize gila-gilaan oleh sang vlogger), dan bisa dinikmati dalam kondisi henpon di lock. Yang terakhir penting buat gue, karena ini mirip kayak dengerin radio. Devicenya bisa dicuekin, tapi obrolannya tetep jalan.

Kelebihan lainnya dari podcast yaitu bisa milih topik. Gue bahkan bisa dengerin kajian Uztadz Hanan Attaki sambil beberes rumah gaes. Cukup nyalain podcastnya, lock henpon, kemudian henpon dikantongin deh.

Gue belum punya podcast favorit sih, masih cari-cari. Any suggestion?

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.