Luamaa banget gak nulis di blog ini. Apakah gue sudah jadi generasi instan.. Yang senengnya nonton vlog ketimbang baca. Hmm tak tahu.. Tapi dengan alasan kesibukan bekerja, membuat hasrat untuk berkarya jadi terlupakan. Bekerja pun nyatanya tidak membuat hati gue bahagia. Sehingga kerinduan untuk nulis apapun, termasuk menumpahkan uneg-uneg, jadi kepikiran. Bicara tentang rasa kesal dalam dada, yang semakin menumpuk, mau gue tumpahin aja disini. Biarin dianggap labil, alay, katrok, tapi gue butuh pelampiasan. Hehehe. Eh tapi bukan biar dikomentari banyak orang ya, sekedar mencari wadah yang pasti menerima (iyalah ini aplikasi kan benda mati) juga biar gak sia-sia udah maintain blog ini dari lama. Mencari eksistensi? Hmm.. Iya juga, tapi bukan kepada manusia. Karena berharap pada manusia hanya menyebabkan kecewa. Berharaplah pada sang maha pencipta seluruh alam.

Jadi gini ……..

(Ehm. Kok sulit yaa untuk terbuka pertama kali.. Oke dicoba lagi..)

Jadi gue merasa sungguh bodoh tidak berguna di pekerjaan gue yang sekarang ini. Terdengar mengeluh ya? Iya, emang. Dan gue gak bisa mengidentifikasi penyebabnya. Mungkin terlalu campur-campur, atau terlalu banyak. Selama ini cuma gue batin dalam hati. Karena gue merasa gak ada yang perlu tahu. Sampai akhirnya curhat sebagian keluhan itu ke salah satu temen kantor, dan dia merasa hal yang sama. Kemudian dia resign hahaha. Lha gue kok masih bertahan? Mungkin gue ada penyakit suka menyiksa diri sendiri. Apa itu namanya.. Psikomatik? Ya pokoknya itu. Tapi gue mulai ada keinginan untuk keluar dari belenggu ini. Mengenai waktunya, ditunggu saja. Gue juga gak tahu kapan.

Kalau kata mbak Najwa Shihab, passion itu bukan seperti wangsit yang dapatnya satu malam secara tiba-tiba, passion itu rasa yang dipelihara. Shiaappp mbak Nana. Akan gue ingat pesanmu dan akan gue temukan rasa-rasa itu.

Rasa sesak dalam dada yang menggangu setiap hari, seperti menutup arus kreatifitas di kepala. Sebongkah kebencian kepada diri sendiri yang semakin hari semakin ingin meledakkan … menghancurkan semangat. Gue tahu bahwa ini gak baik tapi penolakan demi penolakan terhadap realita terus menggerus rasa sadar. Membuat gue terkapar dalam kubangan rasa sakit namun tak dapat diungkit lugas.

Keluhan lainnya mengenai asmara, yang ceritanya sedikit pasaran. Memasuki era pertanyaan – kapan kawin – kapan nyusul – kapan nikah – ayok jangan ditunda – disertai melihat kebahagiaan teman-teman gue saat menimang bayinya, membuat ingin… Hmm.. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan selembar undangan? Belum rosalinda. Gak usah mengkhayal jika Allah belum berkehendak. Gak boleh kufur niqmat. Mesti disyukuri bahwa kondisi sekarang ini gak membuat gue khawatir tentang iuran sekolah.

Beberapa hal lainnya yang berhubungan ketidakpuasan hati. Materi salah satunya. Melihat sekeliling yang mampu bergelimang harta dunia, bikin hati miris. Dan gundah. Dan muncul rasa dengki. Astagfirullahaladzim.

Sudah sudah, gue perpanjang rasa sabar ini.

Sabarrrrr semua ada masanya. Ya kann Gusti Allah?

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s