Cerita sebelumnya..

Pada hari Minggu, acaranya jalan-jalan ke desa budaya Pampang. Lokasinya jauh dari jalan raya, mblusuk-mblusuk ke perkampungan masyarakat dayak. Niatnya pengin lihat orang suku dayak yang kuping panjang. Karena belum keluar, maka kami berfoto sama anak-anak suku dayak. Tapi hati-hati.. disini orangnya gak segan minta uang. Setiap foto ada tarifnya. Sewa baju adat (+/-) Rp. 25.000. Foto bersama anak-anak suku dayak (+/-) Rp. 60.000 untuk tiga kali foto. Saat gue antri toilet pun anak-anak tadi minta uang jajan. Belanja aksesoris khas dayak juga harus nawar.

Sebetulnya setiap hari Minggu jam dua siang, ada performance dari anak-anak suku dayak. Hari itu kami datang cukup pagi. Mau nonton sih tapi nunggunya kelamaan. Juga karena jarak menuju Bontang itu jauh, jadinya kami melanjutkan perjalanan sebelum acara dimulai.

Di kota Bontang kami berkunjung ke tempat wisata Bontang Kuala, yaitu perkampungan di atas laut. Semua rumahnya dibangun di atas patok-patok kayu, serba kayu. Tanaman hias di depan rumah menggunakan botol-botol bekas yang dikreasikan menjadi pot. Lucunya setiap ada motor melintas, suara jembatan kayu terlindas ban motor sudah terdengar dari jauh, alias berisik kletek-kletek-kletek gitu.

Udara laut udah terasa sejak parkiran mobil. Matahari bersinar terik tapi gak apa-apa. Kami makan siang di rumah makan Anjungan Indah, lokasinya di ujung terluar perkampungan. Tempatnya bersih dan besar. Ayam bakarnya manis dan ikan bakarnya yummy. Ada spot lesehan untuk menikmati laut dengan angin sepoi-sepoi. Gak jauh dari situ ada pepohonan mangrove. Tapi gak sempat masuk sih sudah keburu sore.

Hari terakhir, keliling di Samarinda saja. Berkunjung ke masjid Islamic Center, masjid terbesar di Kalimantan. Tapi memang luaaas banget. Kapasitasnya sekitar 10.000 jamaah. Tumbuh beberapa pohon kurma di lingkungan masjid. Bangunannya sudah kayak masjid-masjid di Arab sana. Langit-langit di area sholat pun menjulang tinggi membuat sirkulasi udara gak pengap.

Terakhir, sebagai bukti bahwa kita benar-benar afdol ke Samarinda.. foto di depan Taman Samarendah. Hehehe. Sebutan Samarendah terpengaruh dari logat asli warga setempat dahulu kala. Ohya, karena lokasi taman berada di bunderan jalan raya, jadi untuk ambil foto ini kami, sepupu, dan istrinya sepupu, menunggu sepi kendaraan. Kalau ingat jadi tertawa karena mau foto pakai maju mundur takut ketabrak mobil.

Senin malam sekitar jam sembilan, kami diajak makan nasi kuning. Gak ada hajatan apa-apa. Memang nasi kuning di Samarinda sudah kayak nasi uduk di Jakarta, bisa dimakan kapan saja. Nah disana ada jalanan yang banyak penjual nasi kuning sampai disebut Kampung Nasi Kuning. Rasanya gurih dengan berbagai pilihan lauk. Makin malam, tempat ini makin ramai. Gak heran pulang dari sini makin gendut, makan melulu.

Selasa siang kami pulang ke Jakarta Tangerang. Melalui bandara Sepinggan yang bersih dan keren. Terima kasih banyak untuk sepupu dan istri, semoga rezekinya bertambah terus. Buat keponakan gue, Naura, tetap berprestasi yah.

img_20170124_115117.jpg

Advertisements

One thought on “Kalimantan Timur, Kado Awal Tahun (2)

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s