I’m turning thirty y/o next year. Dengernya ngeri gak sih.. New chapter of my life will begin. As I used to brand myself as twenty-something gurl, so next year is a (really) big deal for me. Sebetulnya setelah ulang tahun ke-25 beberapa tahun lalu, gue berhenti khawatir dengan acara pergantian usia ini. Namun menjadi perempuan berusia kepala tiga itu sesuatu yang baru dihidup gue. Setengah excited, setengah cemas. Because I will tell people that I thirty-something kind of human. Apakah pada saat gue kepala tiga nanti, pandangan orang-orang akan berubah? Apakah gue sudah diwajibkan dewasa, menata hidup dan berkeluarga?

Sejujurnya achievement is what I concern the most. What I have done this year? Are my (late) parents proud of me? Is all things I bought do bring happiness to my life? Why I’m not invest to something more valueable, like gold?

Memang telat sih, di saat anak muda lainnya berlomba-lomba membangun perusahaan, eh gue baru tahap mau investasi apa. Better late than never. Lagian keuangan juga lagi tersendat karena belum bekerja kembali. Sementara investasinya itu merawat yang sudah dimiliki aja.

Being adult is busy. Iya, karena yang diurusin semakin banyak. Tapi gue mendapat pelajaran hidup terpenting, yang gue sesali kenapa gak paham dari dulu. Yaitu mengikhlaskan prilaku, pikiran dan perkataan orang lain dan memutuskan mana yang berdampak pada diri sendiri. Kata lainnya, bodo amat ngapain gue pikirin. Kalau bagus buat perkembangan yaa diterima, kalau cuma ngejelekin doang mah.. bhay! Dengan begitu hidup jauh lebih tenang dan gak pusing mikirin orang lain ngomong apa. Secara dari jaman remaja gue seringkali overthinking pendapat orang lain terhadap apapun yang gue lakukan.

Oh ya satu pelajaran lagi yang gue dapatkan seiring bertambah usia, yaitu melakukan apa yang gue inginkan. Apalagi yang dibutuhkan, lebih penting lagi. Okay cerita sedikit yaa, I am a bit procastinator. And almost all of my decision must be discussed with other person, my Mom for example. Gue gak percaya diri atas keputusan sendiri. Musti tanya kiri kanan baru deh dikerjain. Bahkan untuk hal-hal sepele. Ditambah sifat tukang menunda pekerjaan, jadilah suatu hambatan yang membuat apapun yang gue impikan gak segera terwujud. But now, my Mom passed away. And my bestfriends are busy with their own life because we already grown up. Jadi barrier gue untuk mewujudkan impian mulai berkurang. Gue dipaksa untuk mengambil keputusan dan menerima hasilnya sendiri. Ternyata gak semenakutkan yang gue bayangkan. Well gue masih suka minta saran sih tapi gak separah dulu.

Advertisements

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s