Kehilangan

Pagi ini Astri membuat teh manis hangat, kemudian meminumnya. Bukan susu cair dalam kotak karton seperti biasa. Pagi yang dingin akibat guyuran hujan deras semalaman. Hujan yang mampu meresonansi pikiran Astri untuk mengenang masa lalunya.

Kemudian Astri melihat benda-benda lawas yang sudah puluhan tahun menjadi saksi bisu kehidupan di rumah orang tuanya. Dia memegang kursi kayu tua yang mungkin seumuran dengannya. “Hmm mungkin kursi ini lebih mampu bercerita banyak tentang diriku dibanding Ayah” batinnya.

Astri berpaling pada lemari kayu tua yang berisi aneka makanan. Dia tertarik pada roti manis yang tersimpan disana. “Eh kamu sang lemari, apa rasanya tiap kali sesuatu yang manis diambil darimu setiap saat? Apa kamu ikhlas?” Astri merasa dirinya mulai sinting.

Ayahnya melihat Astri berputar-putar di dapur dari pintu kamar. Hatinya ingin mengucap sesuatu namun tak sampai hati melihat putri semata wayangnya masih larut dalam kesedihan. Mantan istrinya meninggal dunia tiga hari yang lalu. Ia dan ibunya Astri sudah bercerai sejak tiga belas tahun yang lalu. Astri yang meminta. Karena dulu ia sering mencari kebahagiaan sesaat pada wanita lain. Ia tahu Astri membenci dirinya.

Astri mencari kegiatan untuk mengalihkan perhatian. Dirinya tidak mungkin sedih terus menerus. “Ah lemari pakaian Ibu mungkin berantakan” pikirnya. Astri berjalan cepat menuju kamar Ibunya tanpa melihat Ayahnya berdiri canggung menunggu disapa.

Lemari itu sudah reyot sehingga pintunya sulit dibuka dan ditutup. Astri mulai mengeluarkan pakaian satu persatu dan merapikan lipatannya. Saat pikirannya sibuk mengenang masa lalu, Ayah masuk. “Nak kamu mencari apa?” Astri menjawab lirih “Tidak cari apa-apa”

“Kamu masih punya Ayah, nak” ujar Ayah berusaha menenangkan hati putrinya. Astri terkejut, karena dia merasa tak lagi punya ayah setelah melihat ayahnya bermesraan dengan wanita asing di pinggir jalan. “Terima kasih sudah membantu. Pergilah..” jawab Astri.

(Cerita super pendek yang iseng-iseng dibuat oleh penulis karena kurang kerjaan. Cerita ini tidak berdasarkan kisah nyata siapapun. Segala bentuk masukan selalu dihargai.)

Advertisements

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s