Akhir Juli lalu, untuk pertama kalinya memberanikan diri mengikuti acara family gathering warga komplek tempat tinggal gue, tepatnya RT 04. Karena Atok gak mau ikutan jadinya berangkat sendiri. Tapi alasan utamanya adalah gue kepingin kelihatan terlibat dalam acara RT, setelah banyaknya bantuan dari tetangga saat mengurus acara almarhum orang tua gue. Hitung-hitung biar eksis gitu setelah gak ada nyokap.

Rombongan terdiri dari dua bis, berangkat jam enam pagi dari Indomaret depan komplek. Tujuannya ke Congo Cafe & Gallery, Dago Pakar, Bandung. Wah ternyata banyak juga yaa yang ikut.. dari balita sampai nenek-nenek. Namanya juga family gathering. Masuk kota Bandung sekitar jam sepuluh pagi. Seperti biasa, melewati gerbang tol Pasteur kendaraan udah mampet. Di dalam kota pun sama macetnya. Akhirnya sampai tempat tujuan sekitar jam sebelas siang.

Turun dari bis yang pertama dicari adalah toilet hahaha. Pas udah taruh barang-barang di tempat yang sudah disiapkan, home band langsung menyambut dan bernyanyi. Di lokasi kami melakukan kegiatan senang-senang. Nyanyi bareng, request lagu, makan siang, ngocok nama arisan, door prize, tukar kado, lomba joged anak-anak, dan terakhir halal bihalal.

Tapi selama acara berlangsung ada perasaan yang mengganjal di hati dan pikiran. Kayaknya.. gue kesepian di antara keramaian. Bukan mau lebay, tapi… ahh sulit diceritakan dengan kata-kata. Rasanya ada yang kurang. Rasanya gue butuh nyokap hadir saat itu. Apa mungkin gue canggung bergaul dengan ibu-ibu (yang sebagian sudah jadi nenek-nenek), atau akibat kurang bergaul dengan lingkungan sekitar jadi sulit menemukan topik yang cocok. Atau gue hanya rindu keakraban sebuah keluarga.

Saat acara gathering berlangsung pun gue tidak terlibat obrolan penuh dengan para tetangga. Kebanyakan gue muter-muter menikmati suasana di Congo Cafe, atau minum kopi sachet yang disediakan biar badan hangat. Menjauh dari keramaian. Mungkin gue butuh lawan bicara yang seumuran supaya nyambung dan mampu membuka diri. Ya mungkin saja. Atau mungkin gue merasa gak berhak bersenang-senang dengan keluarga orang lain.

Perasaan yang saat itu gak bisa gue utarakan ke siapa pun. Yah kecuali siapa pun yang baca post ini hehehe. Tapi kemampuan gue untuk ‘masking the truth with a smile on my face‘ sedikit banyak terlatih saat bekerja dulu, jadi yaa gue tetap tersenyum. Tertawa saat ada yang lucu. Menjawab pertanyaan yang dilontarkan ke gue. Berusaha membuat percakapan walaupun gak tau mau bahas topik apaan. Usually small talk irritate me, but what can I do in this situation..

Selesai acara di Congo Cafe rombongan dipersilahkan cuci mata di Jln. Riau yang katanya banyak toko-toko dan factory outlet. Gue hanya masuk ke Hijabstory gallery dan Heritage Factory Outlet. Gak belanja baju karena waktu yang diberikan mepet banget, hanya satu jam. Lagi-lagi gue jalan sendiri, karena yang lain sedang bersama keluarganya. Or because I rather be alone..?

Jam enam sore sudah masuk tol perjalanan pulang. Yeay I can make it through the day. Walaupun beberapa kali ditanya kenapa suka sendirian, at least I try. Terima kasih ya Allah atas kesempatan ini.

Advertisements

One thought on “Family Gathering (Without Family)

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s