Bromo mountain is one of my bucketlist. The place I must visit before I die. Dan akhirnya kesampaian sampai puncak. I’m very happy. Ihiiiyyy.. 😀 😀 😀

Trip ke Malang kayaknya gak komplit kalau gak ikutan trip ke Bromo. Gue gak sengaja menemukan operator open trip yang menawarkan harga dibawah harga rata-rata open trip lainnya. Namanya Visit Bromo. Memang kami disuruh berkumpul di meeting point depan masjid alun-alun Malang, gak dijemput ke hostel. Tapi gak apa-apa yang penting murah hehehe. Jalan kaki paling sekitar 15 menit aja.

Jam setengah dua belas malam kami keluar hostel, sekalian mengembalikan kunci kamar. Karena jam kembali dari trip Bromo esok harinya pasti sudah melewati batas waktu checkout. Tapi kami diperbolehkan nitip barang-barang dan bersih-bersih sekembalinya dari Bromo. Baik deh si Mador hostel.

Oleh mbak Riski, contact person Visit Bromo, gue diberi nomor telepon supir yang bakal membawa kami jalan-jalan di area Taman Nasional Tengger sesuai dengan itenary yang dipromosikan. Sesampainya di alun-alun langsung gue telepon sang supir dan ternyata peserta lainnya sudah berkumpul dekat mobil Jeep. Kami berkenalan dan langsung tancap gas. Total pesertanya tujuh orang, pak supir bilang semestinya maksimal peserta enam orang saja supaya nyaman duduknya. Mobil jeepnya memang bukan yang paling keren diantara jeep-jeep lainnya, tapi gak ada masalah sama sekali sampai selesai acara, alhamdulillah.

Tempat pertama adalah Penanjakan Satu untuk memikmati sunrise. Oh gue gak mengira bakal ada manusia sebanyak ini. Ruame buanget. Agak menyesal sih tapi yaa sudahlah. Sebelum matahari ngintip kamu musti lihat ke atas, ke langit luas. Oh. My. God. Bulannya terlihat gede dan bintang-bintang terlihat jelas banget. Mungkin disini minim polusi cahaya. Jadi inget video timelapse di youtube. Belum pernah lihat langit sejernih ini. Keren banget. Sambil menunggu matahari terbit, orang-orang ada yang duduk menunggu di penanjakan dan ada juga yang makan minum di warung terdekat. Menghangatkan diri sambil minum teh, atau antri ke toilet karena kebelet. Disana dingin banget sist..

Begitu si matahari ngintip, hampir semua pengunjung menaikkan kameranya. Uuugh jadi gak kelihatan pemandangannya. Gue cuma foto-foto seadanya, karena yang penting adalah menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini. Gak berasa waktu hampir jam enam pagi, waktunya bergeser ke tempat wisata lainnya. Huhuhu kepengen lebih lama disitu, dan kepengen tempat ini lebih sepi tentunya.

Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan..?

Tempat kedua adalah bukit cinta, yang katanya kalau berhasil mendaki bisa dapet pacar yang diimpikan, misalnya macarin Pevita Pearce kayak di film 5 CM. Tapi gue mendaki cuma sedikit disini terus ambil foto. Simpan tenaga buat mendaki di Bromo. Matahari sudah naik dan mulai panas, pak supir bilang ke Bromo baiknya jangan siang-siang nanti kepanasan.

Kami melanjutkan perjalanan. Waaw.. ini toh yang namanya gunung Bromo. Keluar dari parkiran jeep langsung pasang masker gara-gara anginnya bercampur pasir, dan yang paling mengganggu.. bau kotoran kuda. Duh jalur orang sama jalur kuda digabung sih jadi jalannya gak bisa lurus. Nunduk-nunduk mulu supaya gak nginjek zonk. Oh iya naik kuda sampai ke bawah tangga itu tarifnya sesuai jarak lho. Kalau dari parkiran 50.000 rupiah, semakin mendekati tangga bisa lebih murah. Gue dan rombongan memilih jalan kaki. Biar capek dan ngos-ngosan tapi berasa backpackernya. Kami melewati Pura Luhur Poten yang sayangnya gak dibuka.

Dari bawah sih kayaknya deket yaa si puncak Bromo, setelah dijalani yahh lumayan juga. Gue berhenti banyak buat ambil napas. Yang bikin sulit pendakian adalah medannya yang berpasir. Disarankan pakai sepatu tertutup supaya aman dan nyaman. Tangga menuju puncak pun sedikit terjal. Tapi dengan niat kuat akhirnya sampai juga ke atas. Ternyata di tengah gunung Bromo ada kawah besar menganga dan bunyinya yang sedikit nakutin. Asap putih membumbung yang gue lihat saat di Penanjakan Satu bisa gue lihat sedekat ini. God, I made it! Mah aku sampai Bromo.. seandainya aku bisa cerita ke Mama sepulang dari sini.. 

Pas turun gue lebih takut abis tangganya terjal. Lelah mendaki dan belum makan dari kemarin malam, menyebabkan perut lapar. Kami makan minum dulu di salah satu warung disitu. Terus lanjut ke tempat selanjutnya yaitu Pasir Berbisik. Disini gue gak turun jeep karena udah kenyang main pasir sama tahi kuda di Bromo. Basically ini adalah hamparan pasir halus berwarna gelap yang datar dan tenang. Disebut Pasir Berbisik karena dulu setiap ada angin berhembus yang membawa partikel pasir akan terdengar seperti bisikan.

Gak lama kemudian kami lanjut ke tempat terakhir, padang savannah dan bukit teletubis. Oh. My. God. Ini tempat yang paling gue sepelekan but turned out to be the greatest, menurut gue sendiri sih. Kerreenn parah. Bahkan sebelum sampai ke padang savannah, pemandangan saat mobil mengitari bukit (yang gue gak tau namanya) udah bagus dan di sebelah kiri ada hamparan tebing berwarna hijau kebiruan itu bagus banget. Berasa di New Zealand. Hawanya jauh lebih sejuk dibanding Bromo atau Pasir Berbisik. Tapi hati-hati bisa bikin kulit gosong juga karena matahari.

That’s it. I left my heart in Taman Nasional Bromo Tengger. See you on another opportunity.

Advertisements

3 thoughts on “Jatuh Cinta di Taman Nasional Bromo Tengger

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s