There is always be the first time.. selalu ada waktu untuk pertama kali. Seperti trip ke Malang kemarin, gue pertama kalinya menginap di dorm hostel. Pilihan ini didasari fakta bahwa kami travelling with very limited budget. Dana terbatas namun keinginan melangit hahahaha. Sebelum jalan-jalan dimulai, gue mencari penginapan melalui aplikasi traveloka di gadget, dan memilih harga sewa kamar termurah dari daftar yang ada. Yang paling murah adalah tak lain tak bukan, kamar dorm. Karena akan menginap kamar dorm untuk pertama kali, gue dan travelmate mencari informasi melalui blog-blog yang bertebaran di jagat raya internet. Supaya gak bingung-bingung amat.

Dorm hostel bukan sesuatu yang baru. Tapi bagi yang awam, dormitory hostel adalah penginapan yang menyewakan kamarnya bukan atas nama satu orang, melainkan banyak orang. Karena yang disewakan bukan keseluruhan kamar, tapi hanya kasurnya. Iya, kita sewa satu kasur untuk satu orang. Sisanya sharing. Tapi beberapa dorm menyediakan loker disertai kunci untuk masing-masing tamu. Dan gak semua dorm menyediakan handuk mandi, jadi musti sewa lagi dengan biaya tambahan. Beda hostel bisa beda rule, tapi yang pasti gak boleh merokok di kamar. Komplen aja kalau ada yang nekad. Because its shared area.

Trip kemarin, gue menyewa tiga penginapan untuk tiga lokasi yang berbeda. Yang pertama gue sewa kamar dorm di The Batu Villas. Berlokasi sekitar 400 meter dari Museum Angkut, dengan suasana hotel yang asri dan nuansa alam karena pilihan furnitur dari kayu. Satu kamar diisi dua ranjang susun (empat kasur). Kamarnya gak pakai AC tapi karena udara kota Batu yang dingin jadi gak pengap. Waktu konfirmasi booking melalui telepon gue sempat tanya, apa ranjang susunnya kuat? Soalnya kami ini gendut-gendut. Mereka bilang kuat. Ternyata saat dicek ranjangnya terbuat dari kayu dan kurang kuat. Karena takut jebol, salah satu dari kami ngalah tidur di lantai beralaskan selimut. Untung travelmate gue kuat banget sama dingin. Kalau gue mah nyerah.

Oh iya, kamarnya terdapat balkon supaya bisa buat jemur handuk atau sekedar duduk-duduk. Pintu balkon juga sering kami buka buat pergantian udara kamar dengan udara pegunungan yang adem. Disini disediakan handuk dan air mineral botolan buat tamu hostel. Masing-masing tamu hostel diberi kunci loker untuk menyimpan tas. Hati-hati begitu pintu loker dibuka, akan tercium bau lem karpet sebagai alas kotak loker. Gue sih gak tahan sama baunya, jadi setiap buka loker udah siap-siap tahan napas.

Sebetulnya tempat ini ada berbagai tipe kamar, dari suite, deluxe, sampai dorm. Tamunya bervariasi, gak semuanya on budget alias ngirit seperti kami. Yang gue suka adalah posisi hostel yang strategis dengan pemandangan pegunungan kota Batu. Begitu keluar hostel langsung bisa lihat pemandangan bagus. Alhamdulillah istirahat dan urusan bebersih di tempat ini cukup nyaman. Lumayan buat harga 70.000 rupiah per malam. Untuk kembali ke kota Malang pun tinggal nyebrang jalan raya dari depan hostel.

Esoknya kami pindah lokasi jalan-jalan. Maka kami menyewa kamar (atau kasur) di Mador Malang Dorm Hostel. Lokasinya sekitar 100 meter dari perempatan Klenteng Eng An Kiong, atau disebut juga klenteng pasar besar. Untung gue baca review orang-orang di TripAdvisor yang mengatakan bahwa hostel ini sulit ditemukan karena belum ada papan nama. Nah lho.. Maka dari itu gue whatsapp ke nomor kontak yang ada untuk nanya arah dan patokan menuju hostel ini. Alhamdulillah direspon dengan baik dan kami gak jadi nyasar.

Jangan bingung kenapa belum ada papan nama, karena mereka baru beroperasi sekitar sebulan. Awalnya bisnis mereka itu Bromo Sunrise Tour and Travel, lalu berkembang ke hostel. Lokasi hostel dengan kantor tour and travelnya pun sebelahan. Walaupun begitu, tamunya banyak euy. Bule-bule juga ada. Karena tempatnya yang baru itu jadi masih bersih dan rapi. Satu kamar terdiri dari enam kasur. Kamar mandinya terpisah antara urusan buang air dengan shower untuk mandi. Air mineral, air panas, kopi sachet, dan jahe sachet dapat diminum sepuasnya di common room alias ruang kumpul-kumpul. Dan yang paling penting, ranjang susunnya terbuat dari besi. Walaupun gue dapat kasur diatas tapi gak takut buat naik turun.

Dengan harga (kalau gak salah) 66.000 rupiah per malam, kami bisa beristirahat dengan nyaman. Desain ranjang susunnya ini menciptakan privasi buat tamu. Masing-masing kasur dipisahkan oleh papan dan ada gorden penutup. Oh iya, di masing-masing kubikel kasur terdapat lampu dan colokan buat ngecharge gadget bawaan. Masing-masing tamu diberi kunci kamar yang harus dibawa setiap kali keluar.

Yang ketiga di Jember menginap di Hotel Cendrawasih. Tapi ini kamar biasa bukan dormitory, jadi dibahas di lain post saja.

Advertisements

6 thoughts on “Menginap di Dorm Hostel

  1. I truly love your site.. Great colors & theme. Did you create this website yourself?
    Please reply back as I’m wanting to create my
    own website and would like to learn where you got this from or exactly what the theme is called.
    Many thanks! http://bing.org

    Like

  2. Greetings from Ohio! I’m bored at work so I decided to check out your blog on my iphone during lunch break.

    I love the info you provide here and can’t wait to take a look when I get home.
    I’m surprised at how quick your blog loaded on my mobile ..
    I’m not even using WIFI, just 3G .. Anyhow, very good blog!

    Like

  3. Pingback: URL

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s