Bahas kemerdekaan negara kita tercinta, Indonesia, yuk! Hehehehe bercanda ding.. topiknya terlalu berat. *tunjuk-kepala-sendiri*

Bagaimana kalau kita membahas kerupuk. Iya, kerupuk. Makanan pendamping yang selalu dicari saat suasana kurang meriah. Makanan yang terkadang disalahkan atas meningkatnya kadar kolesterol atau berat badan seseorang. Makanan yang dikira tidak berpengaruh pada kondisi pencernaan, eh ternyata berpengaruh. Coba deh googling dengan keyword ‘bahaya makan kerupuk’.

Sekian banyak jenis kerupuk di Indonesia, kenapa yang jadi bahan perlombaan cuma si kerupuk putih. Karena bolong-bolong supaya gampang diikat tali rafia? Iya bener juga sih *gak-ada-perlawanan*. Tapi lagi-lagi, kerupuk yang ringan bobotnya, besar dampak sosialnya. Kok begitu? Pernah bawa atau dibawain oleh-oleh kerupuk khas daerah kan.. yang ngerubutin banyak kan.. Maksud gue dengan begitu jadi nambah pergaulan. Mungkin kenyataannya lebih kepada sok akrab karena ada makanan gratis.

So.. si kerupuk ini yang belum pernah tampil sebagai makanan utama, jadi sidekick terus menerus, ternyata dieratkan pada sifat. Pernah¬†denger kalimat “jangan punya mental kerupuk” kan. Kenapa gak makanan lain, misalnya mental oseng buncis. Nah kerupuk diibaratkan mudah remuk (yang asli, bukan yang oplas), mudah melempem, kena benturan langsung hancur. Mental seperti itu dilarang melekat pada diri masing-masing anak bangsa. Harus optimis, kuat dan berani.

Tapi yang namanya manusia sifatnya tidak pernah ajeg. Kadang tegar, kadang sedih. Saat benar-benar down itulah kita punya mental kerupuk. Terus apa harus buru-buru normal kembali? Gak semua orang bisa. Buat gue, kesedihan harus dirasakan, diakui, dan dijalani. Musti ngaku kalau lagi sedih, supaya ada penerimaan diri dan gak peduli lingkungan ngomong apa. Setelah sadar penyebabnya karena apa, barulah kita bangkit. Kembali menjadi superman and superwoman that the world needs. Ini kayaknya setengah curcol deh..

Kembali ke kerupuk. Pernah makan seblak? Ini pertama kali seumur hidup gue makan kerupuk tapi dia sendiri yang jadi primadonanya. Bukan lagi sekedar temennya nasi, atau mendompleng ketenaran soto. Secara rasanya yang pedes gila (gue gak terlalu kuat pedes) kayaknya kurang cocok dimakan pas lagi laper-lapernya. Jatuhnya buat makan-makan iseng, atau ngemil-ngemil cantik ingusan (kan pedes). Kerupuk yang dianggap cuma sampingan kini bisa bikin orang berurai air mata sambil ketagihan.

Kerupuk oh kerupuk. Banyaknya ragam jenismu bisa menggambarkan ramainya penduduk Indonesia. Mampu menggerakkan roda ekonomi warga lokal juga. Walaupun kamu berisik, makan tempat, dan gampang melempem, tapi kamu mesti dicariin banyak orang.

Pesan moralnya: kalau ngerasa cuma jadi kerupuk di dalam jamuan makan, inget.. keberadaanmu bisa mengubah banyak hal.

Advertisements

One thought on “Merdeka Dari Galau (Filosofi Ala Ala)

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s