Di hari yang panas itu, kami memutuskan untuk jadi turis lokal kota Jakarta. Biar gak cuma wacana melulu kalau mau lihat-lihat kota tua. Awalnya mau ikut bis city tour tapi karena kurang persiapan alias males googling, akhirnya tujuan utama hanya ke kota tua. Dari daerah Ciputat naik bis transjabodetabek (gantinya bis APTB yang sudah dihapus) yang hanya sampai halte Blok M. Karena bis ini masih pakai bahan bakar solar, padahal di jalan Sudirman dan Thamrin sedang diadakan Car Free Day (gue pernah nyobain lho). Hanya bis yang berbahan bakar gas yang boleh lewat. Alhasil kami transit di Halte Blok M.

Ternyata si transjabodetabek ini mau masuk ke terminal musti muter-muter dulu. Mana macet pula. Mau protes juga gimana.. kan gak mungkin loncat dari bis cuma gara-gara gak sabar. Alhamdulillah menunggu bis transjakarta gak terlalu lama. Perjalanan berlanjut sampai halte Kota. Kami melewati jalan bawah tanah untuk menyebrang. Buat yang belum pernah lewat sini, tempatnya ramai kok. Tapi gak tahu yaa kalau malam hari. Jalurnya dihias daun-daun plastik gitu, bisa buat spot foto-foto. Ada banyak pedagang juga. Sayang gue gak ambil gambar pemandangannya. Kami beli roti buat ganjel perut yang mulai kukuruyuk. Lalu kami keluar menuju arah Museum Bank Indonesia.

Karena si travelmate kepingin banget masuk museum yang banyak uang-uangnya (doi ngomongnya begitu), jadinya tempat pertama yang dikunjungi adalah Museum Bank Indonesia. Eits, sebelum masuk ada hal wajib dilakukan. Foto? Bukan. Makan dulu. Jadilah gue duduk di pinggir taman depan museum, dibawah sinar matahari yang teriknya aduhai. Istilah kerennya, ngemper. Daripada kelaparan pas muter-muter  di dalem. Begitu roti udah abis, cuss masuk ke dalam buat ngadem. Wuiihh gedungnya bagus lho, gue kira mah jadul.

Langit-langitnya yang tinggi bikin hawanya tambah adem. Para petugas berpakaian rapi dan sigap. Gue salut sama pengelola museum ini. Pantes aja banyak bule-bule datang. Karena (lagi-lagi) gak cari tahu dulu, kita berdua celingak celinguk bingung ini gratis apa beli tiket yaa. Yaudah kita samperin salah satu counter yang ternyata tempat penitipan tas. Yang boleh dibawa masuk hanya tas kecil, dompet dan handphone. Terus kita disuruh beli tiket seharga 5.000 rupiah. Kalau harga mahasiswa lebih murah lagi.

Awalnya gue (dalam hati) menyepelekan museum ini. Ah cuma sejarah duit-duitan paling isinya sedikit. Ternyata eh ternyata.. luas bok. Lumayan bikin kaki kenceng buat yang gak pernah olahraga. Begitu masuk pertama kali ada ruangan gelap dengan banyak lampu mirip planetarium. Lalu mulai deh sejarah Indonesia jaman dahulu gimana perdagangan dilakukan. Dari jaman barter barang, lalu invasi negara lain masuk, jalur setera, dan sebagainya. Sepanjang jalan di museum ini banyak diorama-diorama beserta sejarahnya.

Akhirnya masuk ke suatu ruangan yang isinya uang rupiah jadul sampai yang masih berlaku sekarang. Bahkan dari jaman pembayaran dilakukan dengan logam mulia, semacam perak juga dipamerkan. Gue baru mengerti, keberadaan bank di Indonesia itu dipengaruhi juga oleh Belanda lho. Di bagian belakang ada lemari yang berisi uang-uang dari negara-negara di seluruh dunia.

Sampai juga kepada sejarah Bank Indonesia itu sendiri. Mulai dari perubahan logo, alat-alat komunikasi, alat-alat perhitungan yang digunakan, furnitur, sampai foto pejabat gubernur Bank Indonesia.

Setelah berputar-putar di dalam akhirnya ketemu sinar matahari lagi. Oh iya, gedung museum ini bisa disewa buat acara pernikahan lho. Gue sempat lihat beberapa cowok wara wiri pakai jas. Kemungkinan itu pengantin dan saudara-saudaranya. Oh iya, di dekat lobby juga ada toko souvenir.

Gak berasa sudah siang, saatnya menunaikan ibadah sholat dzuhur. Masjid museum ini bagus sih menurut gue. Tapi panas, karena ada panel kaca gede di bagian depan. Mungkin supaya irit lampu. Tapi hawanya jadi kurang nyaman buat sholat. Habis sholat kita masih  penasaran sama Kota Tua. Yaudah jalan kaki deh kesana. Astaga tempat ini ruamee sekali. Mau masuk Museum Fatahillah pun gak kesampaian, karena sudah jam tiga sore dan antrian tiketnya masih panjang. Gokil!

Setelah capek mengamati kegiatan di seputar Kota Tua, kami pulang naik KRL dari stasiun Kota. Transit di stasiun Kampung Bandan. Stasiunnya kayak di antah berantah, soalnya di sisi-sisi stasiun seperti gak ada kehidupan. Banyak rumput tinggi. Walaupun dari kejauhan terlihat jelas gedung Alexis. Nunggu kereta juga lama. Dari Kampung Bandan transit lagi di Tanah Abang. Baru deh lanjut ke Sudimara. Capek tapi seneng.

Advertisements

One thought on “Main ke Museum Bank Indonesia

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s