Ya Allah gue sadar gak boleh begini.. (ง`0´)ง aaarrggghhh. Ceritanya sih sepele.. gara-gara recehan!

Karena ternyata uang receh itu sangat penting saat kita berkunjung ke tempat ziarah. Di lokasi tersebut akan banyak sekali manusia memegang wadah kecil ditangannya dan menyodorkan kepada kita, para pengunjung atau turis lokal, supaya menaruh uang alias nyumbang. Untuk alasan pemeliharaan tempat makam sebetulnya gue ikhlas aja menyumbang. Tapi kalau mintanya maksa, gue jadi sebel. Dan kalau ada tiket resmi masih mending, lah kalau duitnya lari ke kantong masing-masing gimana.

Ya Allah jadi ngomongin gini.. gak berkah deh duit dua ribu rupiah gue..

Semua berawal dari kenaifan dan kebodohan gue.

24 Mei 2016, ceritanya gue bersama si Mas berangkat dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Cirebon Prujakan. Rencananya mau ziarah ke makam pemuka islam jaman dahulu. Naik kereta Kutojaya Utara dengan harga sekali jalan Rp. 75.000, jam setengah enam pagi. Rencananya sih pp aja, nanti sore balik ke Jakarta.

Sampai Cirebon kita jalan kaki sedikit dan sempetin sholat dhuha di masjid (kalau gak salah namanya) At-Taqwa. Di masjid ini ada air dingin gratis, asik bisa refill. Lalu dari depan masjid kita naik angkot dengan kode GG ke arah makam Sunan Gunung Jati, bayar per orangnya Rp. 4.000. Dari jalan raya ke lokasi makam ternyata gak jauh. Gue segera mengeluarkan pasmina untuk kerudung kepala, kaos sudah lengan panjang jadi gak pakai jaket lagi. Karena di ziarah makam seperti ini para pengunjung perempuan hampir semuanya berhijab.

image
Masjid-Attaqwa

Layaknya tempat wisata di sepanjang jalan masuk berjejer warung dan toko. Lalu mulai ada manusia yang minta sumbangan tadi. Pintarnya mereka ini berdiri berjejer di sepanjang jalur masuk pemakaman. Persis kayak pagar ayu dan pagar bagus di kondangan. Bedanya yang ini minta duit. Gak cuma tiga atau empat orang, banyak lho. Si Mas bilang ikutin arus saja, jangan keluarin duit nanti yang lain pada ngerubungin. Lagian gue sama sekali gak prepare recehan. Sebelum berangkat pun gak nyari informasi di internet pula. Inilah resiko dari ketidaktahuan :(.

Hampir mendekati pintu makam, gue dihadang oleh salah satu dari mereka. “Udah pak sekalian” kata gue ke bapak yang menghadang. Karena si Mas juga sudah menyumbang. Lalu dia bilang “yaa satu-satu”. 👿 Ih kok maksa. Ya sudah gue mengeluarkan uang dua ribu kembalian angkot dan menyerahkan pada bapak disebelah kanan, yang bagian jaga kotak sumbangan. Ya Allah gue memaksakan diri untuk ikhlas tapi susah. Ah niatnya ziarah malah ternoda kayak begini.

Lalu gue memperhatikan pengunjung lain, mereka siap recehan di kantongnya. Rata-rata koin Rp. 500 dan maksimal Rp. 2.000.

Saat di dalam berbagai doa dipanjatkan, subhanallah.. saudara sesama muslim masih banyak yang berdoa buat leluhurnya. Gue mengikuti doa yang dipanjatkan oleh suara terbanyak hehehe. Interior tembok makam seperti dipengaruhi kebudayaan Cina karena banyak ditempel keramik berbentuk bulat mirip piring warna warni gitu. Hmm gue suka lihat keramiknya. Buat kolektor item bisa juga nih.

20160524_131830
masjid-kanoman-abaikan-kaki-saya

Akhirnya bisa ziarah walaupun ada sedikit ganjalan. Kita sempat juga ke Keraton Kanoman, makan tahu gejrot di depan Keraton Kasepuhan, beli manisan di toko Sinta, beli kue Gapit di pasar Jagasatru, dan ganti baju di Grage mall. Lalu pulang naik kereta Tawang Jaya jurusan stasiun Pasar Senen. Harganya Rp. 75.000 berangkat jam 17.30 dari Cirebon Prujakan.

Advertisements

One thought on “(Wajib) Bawa Uang Receh saat Ziarah ke Gunung Jati

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s