Saya tahu ini telat diucapkan. Apalagi menyatakan hanya lewat media sosial, yang seharusnya dilayangkan dalam doa setiap sholat. Tapi jauh sebelum tulisan ini dibuat, saya tahu saya sudah mengagumi kedua orang tua saya, bahkan secara tidak sadar. Dengan segala perbuatan mereka yang pernah membuat saya menangis dan sakit hati, tapi yang jauh lebih menyakitkan adalah tidak sempatnya saya untuk membuat mereka merasakan buah dari kerja keras mereka selama ini. Apakah sekarang ini saya termasuk orang yang berhasil? Saya rasa belum. Tapi saya tahu bahwa saya adalah orang yang beruntung. Seperti doktrin kebanyakan orang Jawa, apa aja dibuat untung. Misalnya, sudah yatim piatu, untung masih punya rumah dari orang tua.

Bapak meninggal tahun 2007 waktu itu saya masih semester empat kuliah di Universitas Bina Nusantara serta adik masih kelas satu tsanawiyah di Madrasah Pembangunan, lalu Ibu meninggal tahun 2015 lalu ketika adik saya masih kuliah di Universitas Trisakti. Dulu sepeninggalan Bapak, Ibu menyatakan gak mau menikah lagi. Juga gak mau mengeluarkan uang untuk usaha bisnis atau investasi apapun. Beliau bilang sayang uangnya, mending diirit-irit daripada tertipu lalu rugi banyak. Untungnya saya cukup tahu diri untuk bisa menabung dari uang jajan dan gak minta yang aneh-aneh. Waktu itu benda yang paling mahal saya pinta adalah handphone baru yang ada kameranya. Merknya Sony Ericsson K618i harganya gak ingat tapi dibawah dua juta rupiah. Di tahun itu, saya termasuk segelintir mahasiswa yang gak punya handphone berkamera. Begitu dapat handphone yang saya inginkan, senangnya bukan main.

Adik saya yang masih berstatus anak SMP waktu itu, sepertinya belum paham artinya ditinggal Bapak. Dia terkadang marah-marah ke Ibu saya untuk urusan sepele. Kalau lagi berantem begitu saya cuma bisa sedih sambil ngumpet di kamar. Jahatnya lagi, saya memaksa Ibu untuk menjadi single parent yang sempurna. Yang kalau dipikir-pikir sekarang, rasanya saya sok tau sekali.

Tahun demi tahun berlalu. Seiring waktu saya mulai fokus bekerja, sedangkan Ibu fokus ke pendidikan Adik saya. Setelah punya gaji sendiri, saya merasa bisa meringankan beban Ibu saya dengan memenuhi kebutuhan saya sendiri. Beli baju kerja, baju pesta, handphone Samsung, dan lain-lain. Intinya duit saya untuk senang-senang saya sendiri, saya bangga gak minta lagi ke orang tua.

Pertengahan tahun 2014, tiba-tiba ada panggilan hati untuk saya berangkat umroh. Semangatnya bukan main. Maka saya mulai menahan diri untuk tidak menghambur-hamburkan gaji, saya mulai menabung, terus browsing cari-cari agen yang murah tapi bagus. Sharing ke teman-teman yang memiliki keinginan yang sama. Rasanya panggilan ini nyata.

Di akhir 2014, Ibu saya mengeluh sakit dan tumben-tumbennya mau ikut medical checkup di rumah sakit UIN Syarif Hidayatullah. Biasanya beliau paling menghindar dari yang namanya rumah sakit. Hasilnya memang gak terlalu bagus. Lalu Ibu konsultasi ke sepupu saya yang berprofesi sebagai dokter umum. Dia mengeluh kakinya sakit. Diagnosanya itu karena asam urat yang tinggi. Lalu Ibu rutin minum obat.

Awal tahun 2015, Ibu masuk rumah sakit karena tekanan darahnya drop. Dan sejak saat itu beliau keluar masuk rumah sakit tiga kali, sampai dipanggil Allah SWT pada tanggal 20 Juni 2015. Saya yang tadinya kost di belakang kantor daerah Tebet, pada bulan April memutuskan laju pergi pulang kantor pakai kereta commuter line. Teman-teman kost dulu sempat main ke rumah dan bertemu Ibu. Ibu terlihat senang berkenalan dengan mereka. Ibu selalu senang bertemu dan kenalan dengan teman-teman yang main ke rumah. Setelah wafatnya Ibu, kami yang di rumah mengadakan pengajian selama tiga hari berturut-turut serta pengajian ke malam empat puluh hari. Keramaian terakhir yang terjadi di rumah.

Seperti post saya sebelumnya, saya memutuskan resign dari kantor pada akhir 2015 dengan alasan ingin istirahat di rumah. Otak saya gak mampu berpikir lagi. Jadi tahun 2016 ini adalah fase baru dalam kehidupan saya. Saya belum pernah jobless selama ini dan anehnya saya menikmatinya, walaupun secara keuangan tabungan saya hampir habis. Tapi saudara-saudari dari Ibu sudah memperingatkan bahwa dana pendidikan Adik tidak boleh kurang dan saya sudah mengiyakan. Semoga setelah lebaran tahun ini saya mampu mulai untuk bekerja kembali.

Dan semenjak menganggur, saya suka mengingat-ingat kejadian masa lampau saat rumah ini masih hangat dengan aktifitas berbagai orang. Nostalgia ketika melihat benda-benda kenangan. Saya masih suka membayangkan suara dan wajah kedua orang tua saya, hanya untuk sekedar tidak lupa. Saya ingat cerita mereka bayar cicilan KPR rumah ini yang hanya sembilan puluh ribu rupiah perbulan. Di masa itu gaji bulanan mereka hanya beberapa ratus ribu rupiah. Kemana-mana berdua naik vespa. Bapak saya marketing sebuah merk mobil, sedang pameran di mall, dan tak sengaja bertemu Ibu yang bekerja di salah satu optik sebagai refraksionis. Bapak saya masuk optik tersebut untuk konsultasi kacamatanya. Entah bagaimana Ibu saya yang tomboi bisa jatuh hati sama Bapak, sampai akhirnya mereka menikah.

Saya terkadang memainkan suatu sandiwara di dalam pikiran saya. Sandiwara itu terjadi saat saya bertemu orang tua dari sahabat dan teman. Saya berpura-pura kalau saya adalah anak dari orang tua itu, membayangkan mereka adalah orang tua saya, membayangkan pembicaraan yang kami lakukan adalah pembicaraan antara orang tua ke anak dan sebaliknya. Hanya untuk merasakan inikah rasanya memiliki orang tua. Lalu sesaat kemudian saya tersadar, semua ini semu. Seperti meraih sesuatu yang tak mungkin dimiliki lagi.

16113_10153483950708464_1254540194556927514_n
papa-mama-adek
Advertisements

One thought on “Very Long Heart Story

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s