Hari Rabu lalu, 27 April 2016, pertama kalinya gue jalan keluar kota, sendirian, naik kereta api, go show pula. Hari itu gue merasa keren hahahaha.. Pasang alaram di handphone sebelum shubuh supaya bisa siap-siap dan gak terburu-buru. Dengan bekal informasi hasil googling semalam dan niat mau jenguk pakdhe (kakak laki-laki dari mama) di Semarang, gue berangkat jam 05.50 dari rumah. Bismillah..

Perjalanan dari rumah, jalan kaki lewat gang kecil ke jalan raya (abis si Atok baru bangun jadi gak mau nganterin). Capek sih bin keringetan, tapi demi ngirit dan udah lama gak jalan pagi. Sampai keluar gang sempetin ambil duit di ATM buat ngisi dompet. Terus lanjut jalan kaki buat nunggu bis APTB dari seberang Ramayana. Alhamdulillah, sekitar jam setengah tujuh bis APTB datang, tapi sayang gak dapat tempat duduk. Mana bawa ransel lagi, yaudah berdoa aja kuat berdiri sampe Jakarta.

Nanti gue bakal turun di halte Harmoni koridor satu, lalu transit ke koridor dua yang arah Pulogadung, keluar di halte Gambir 2. Seperti yang sudah diprediksi, jalanan macyeett. Mana kaki udah terasa pegel. Gue dapet duduk baru setelah Bunderan HI. Antara seneng sama deg-degan ketakutan gak nyampe Gambir sebelum jam sembilan pagi. Kereta yang mau gue naikin itu berangkat jam 09.30.

Kalau hasil googling semalam sih katanya musti berada di stasiun dua jam sebelum keberangkatan. Ah yang bener, lama amat kayak checkin di bandara. Gue akhirnya ambil kesimpulan sendiri, jeda waktunya sekitar satu jam saja sebelum keberangkatan.

peta-perkoridor2
gambir-punya-dua-halte

Tapiiii jam setengah sembilan itu masih di halte busway Harmoni. Begitu keluar bis APTB langsung jalan cepat ke pintu transit koridor dua. Ada koridor 2 dan 2A, gue kebablasan ke koridor 2A, nanya sama petugas bis mana yang lewat Gambir. Doi cuma nunjuk ke pintu sebelah dengan cool. Iya deh mas lain kali saya gak salah lagi 😌. Disana udah banyak penumpang antri. Waduh semoga masuk semua orang-orang ini termasuk gue ke bis, supaya gak nunggu lagi bis berikutnya. Untung bis di koridor dua datang gak lama kemudian, langsung gue naik. Sempat ragu akhirnya nanya ke kondektur, apa jalur ini lewat halte Gambir. Alhamdulillah gue gak salah naik.

Turun di halte Gambir 2, jam sembilan kurang sepuluh menit. Whaaattt.. masih bisa beli tiket ga yaa 😰 . Untung haltenya pas pintu masuk Stasiun Gambir. Gue jalan lurus cepat berharap gak nyasar cari loket, sambil berdoa tentunya. Sampai depan loket, dengan napas terengah-engah,

“mbak beli tiket ke semarang, bisa?”

Si petugas loket mengangguk. Fiuhh legaanyaa.. 😥

“untuk hari ini?” Dia bertanya.

“Iya mbak. Jam setengah sepuluh, argo anggrek.”

Eh untung lagi tiketnya diskon 10% dari harga 310.000 rupiah jadi 279.000 rupiah. Lumayaann :mrgreen:.

“Duduk dekat jendela atau dekat jalan?” Tanya si petugas lagi.

Dekat jendela” jawab gue mantap.

Oiya keluarkan KTP untuk pendaftaran, juga pemeriksaan masuk ke peron. Di bagian pemeriksaan gue nanya lagi ke petugas, ternyata kereta argo anggrek tunggunya di jalur satu atau dua. Nanti tinggal dengar pengumuman.

image
interior-kerete-argo-anggrek

Di dalam kereta, awalnya gue cengar cengir sendiri. Norak maksimal 😆. Akhirnya gue berani jalan sendiri, ngomong dalam hati. Menikmati pemandangan kota Jakarta yang akhirnya berganti jadi daerah pinggiran, kemudian kota-kota Jawa Barat. Awak kereta yang jualan makanan mulai mondar-mandir. Belum makan dari pagi bikin keroncongan, gue memutuskan beli nasi goreng seharga Rp. 30.000, yang rasanya… hambar. Membuat harga tiga puluh ribu jadi sangat overprice. Yaudah deh yang penting bisa makan (lupa foto makanannya). Untung bawa aqua dua botol dari rumah jadi irit gak beli minum.

20160530_113048
duh-harganya

Sayangnya kereta sampai di stasiun Tawang Semarang terlambat. Mustinya gue sampai tujuan jam tiga sore, ini baru sampai jam lima sore. Karena ada perbaikan rel di stasiun Batang. Kasian juga si Mas nunggu disono, untung doi kreatif, ngajak tukang becak ngobrol. Eh gue kelaperan sore-sore.. mau beli nasi goreng lagi, udah gak sudi gara-gara rasa dan harganya. Akhirnya beli kopi hitam pakai gula seharga Rp. 6.000. Lumayan biar melek karena sampai stasiun Tawang bakal lanjut ke rumah sakit islam Sultan Agung.

20141221_084719
makam-desa-sumber

Innalillahi wainnailaihi rojiun, esok pagi pakdhe meninggal dunia. Bersyukur gue bisa melihat beliau untuk terakhir kalinya. Setelah sholat jenazah di Semarang, iring-iringan keluarga berangkat ke Kutoarjo. Penguburan dilakukan di Desa Sumber, kecamatan Pituruh, tempat keluarga besar mama saya dilahirkan. Sehari setelah penguburan jenazah, kami sempat ke Kutoarjo beli cemilan dan mampir makan siang.

20160430_103943
es-dan-soto-prapatan-wajib-jika-ke-kutoarjo

Posted from WordPress for Android

Advertisements

One thought on “Go Show ke Semarang

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s