Yes, its true.

Gak percaya? Tengoklah keluar jendelamu. Jangan natap komputer mulu.

image
taken-by-my-phone

Right here, right now. Di sebelah meja komputer, di luar jendela rumah,  gue melihat keagungan Tuhan. Langit biru cerah dan jajaran awan-awan yang indah. Mood booster abis. 

Di masa menganggur yang mulai bikin khawatir ini, kemarin gue mengingat-ingat hobi yang sudah lama gak dilakukan. Lalu obrak-abrik lemari, beruntungnya gue, masih ada novel karangan Sidney Sheldon yang belum dibaca. Bahkan belum dibuka plastiknya. Karena sudah kangen mau baca novel, dalam sehari langsung tamat. Ada yang hobi baca novel disini?? *lambai-tangan-goyang-pinggul* yang hobi pasti mengerti euforia serta orgasmiknya membuka plastik buku baru. Rasanya wuaahhh.. Ini terlepas dari isi ceritanya ternyata membosankan atau enggak ya. Terus kok bisa ada novel Sidney Sheldon yang teronggok terlupakan di lemari, sedangkan gue sendiri penggemarnya. Nah ceritanya bertahun-tahun yang lalu ada bazaar toko buku Gramedia di Mall Tebet Green, disitulah gue kalap karena novel-novelnya didiskon gede-gedean. Apalah iman seorang perempuan biasa bila dihadapkan dengan cobaan diskon. Saat ini toko dan mall tersebut sudah tutup, karena disegel polisi. Bersyukur dulu menyempatkan borong buku.

Sebelum menulis blog post ini, gue menambahkan daftar buku-buku pada akun Goodreads. Kebanyakan yang dimasukkan masih dalam kategori currently reading alias belum selesai dibaca. Banyak faktor yang membuat gue berhenti membaca buku-buku tersebut. Alasan terbesar biasanya karena bosan, ceritanya kurang bikin penasaran, kurang emosional, atau tergiur buku baru lainnya. Selera gue yang campur-campur ini sebenarnya menguntungkan sih, gue sempat baca buku motivasi, metropop, chicklit, drama, mystery, resep masakan, dari jaman Meg Cabot dengan Pricess Diaries dan J.K. Rowling dengan Harry Potter, sampai Never Eat Alone-nya Keith Ferrazzi sama Creative Junkies-nya Yoris Sebastian.

Lucky me, on the back of the house has a terrace overlooking the vast sky and foliage of trees.
Jadilah hari kemarin gue menghabiskan waktu dari pagi sampai siang, duduk di teras belakang sambil baca buku. Setiap ada angin berdesir melewati dedaunan, terus ada bunyi gemerisik sedikit. Langitnya cerah tapi berawan, membuat suasana teduh gak kepanasan. Sumpah itu nikmat banget. Happiness is in your heart, kata orang-orang.

Ini pemandanganku, mana pemandanganmu?

Advertisements

3 thoughts on “Nothing Can Beat a Clear Blue Sky (and a Good Book)

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s