Ini cerita yang terlambat tayang. Padahal gue melakukan perjalanan ini pada September 2012. Gara-garanya lagi buka folder foto jadul. Eng ing eengg.. wah gue belum pernah cerita tentang gue ke Malaysia. Sebetulnya sudah ada cuplikannya sedikit tapi kurang lengkap gitu.

Deg-degan dan excited bangeet. Semenjak punya paspor, inilah pertama kalinya cap tanda imigrasi terpampang nyata di lembaran buku paspor. Wooowwww akhirnya gue ke negara lain jugaaak. Tujuannya adalah Malaysia. Travelmate gue si Nisa udah bolak-balik kesono. Secara doi kuliah internasional yang sebagian kelasnya ada di Malaysia dan sebagian lagi disini, Tangerang Selatan. Jadi yaa gue yang buta sama sekali sangat bergantung sama Nisa. Kalau dipikir-pikir sih agak annoying yah, bergantung sama orang lain tapi kepengen semua harapannya tercapai. Itu baru gue realize sekarang. Hahahaha telat. Tapi gak apa-apa buat pengalaman travel selanjutnya.

Sebelum perjalanan dilakukan, gue gak mencari sedikit pun referensi wisata di Malaysia. Waktu itu kerjaan kantor lagi numpuukk. Gak sempat browsing. Terserah si Nisa mau ngajakin gue kemana, yang penting seru. Nah ini yang gak boleh kamu lakukan yaa. Kamu yang sudah dewasa harus bisa bertanggung jawab dengan kebahagiaanmu. Karena apa? Ketika gue lepas tangan dari itenary jalan-jalan maka gue harus nrimo apa aja yang sudah direncanakan. Padahal harapan gue yang first timer ke luar negri ini begitu besar.

Kita pesan tiket secara online dari website Lion Air. Ini juga yang pertama kalinya gue pesan tiket online! Ngerti kan betapa gue deg-deg-serrr banget. Kalau gak salah total biaya tiket 1,1 juta rupiah untuk pulang pergi menggunakan maskapai Lion Air.

Pesan penginapan juga online menggunakan Agoda, tapi karena tidak satu pun dari kami memiliki kartu kredit. Kami minta tolong ke orang lain untuk memesankan. Nah ini gue turut andil sedikit, karena sempat melihat-lihat review pengguna lainnya. Dan juga ikut rembukan hotel mana yang dipilih. Aduh lupa nama hotelnya. Sebetulnya ini bukan pengalaman sendiri, cuma ini pertama kali pesan hotel secara online.

(update: nama hotelnya Sunbow Hotel Residency. 10th floor, Sun Complex, Bukit Bintang, Kuala Lumpur)

Sampai hari keberangkatan tiba, malamnya gue menginap di rumah Nisa supaya lebih mudah berangkat ke bandara. Taksi yang dipesan datang tepat waktu. Dari masuk sampai menuju ruang tunggu sih lancar. Sedikit drama saat kita nunggu pengumuman pesawat kok gak kedengeran. Karena bosen kita sampai mainan makeup, ngelenong di ruang tunggu. Udah last minute gue curiga. Eh ternyata ruang tunggunya dipindah. Ya udah kita lari-larian ke ruang tunggu yang benar. Untung gak ditinggal pesawat.

Dalam pesawat duduknya dekat jendela dong, my favorite. Ya Allah rasanya bener-bener campur aduk. Kami tadinya heboh sendiri eh ketiduran juga selama penerbangan. Setelah landing, jreengg..! Ini yang gue gak prepare. Sistem bandara Kuala Lumpur International udah bagus yaa. Saking bagusnya gue gak ngerti bahwa musti naik train dulu baru baru bisa keluar bandara. Nah loh.. bingung. Gue ngintil si Nisa aja deh.

Masalah datang lagi saat nyari hotel. Kita diturunin supir taksi bandara di pinggir jalan. Nanya orang sana sini tetep gak ketemu. Geret-geret koper di pinggir jalan raya, panas pula. Oalaahh ternyata hotelnya nyempil dibelakang pertokoan gede. Mana lift ke lobby hotelnya lama dan bareng-bareng sama orang lain. Maksudnya ini hotel adanya di lantai sekian begitu, bukan gedung milik sendiri. Karena ngincer murah dan kamarnya lumayan bagus. Lain kali cek di google map dulu. Kelebihan hotel ini dekat kawasan Bukit bintang.

Setelah check in kita leyeh-leyeh sejenak sambil mikir entar mau ngapain. Karena dekat pertokoan kita sempat masuk dan akhirnya belanja. Dasar cewek yah. Muter-muter sekitaran Bukit bintang sampai puas. Sebetulnya gue udah lupa disana ngapain aja. Hahahaha. Ini semua dibantu oleh sekumpulan foto yang kira-kira bisa gue urutin kejadiannya. Mohon maaf yaa kalau gak detil sama sekali.

Isi tayangan saluran televisi di hotel sama sekali gak menarik, jadi gue bete kelamaan di hotel. Nah kalau jalan sama orang lain, kita musti kompromi dengan kegiatan travelmate. Mau lebih lambat atau lebih cepat yaa saling menyesuaikan. Oh iya pagi itu kita keluar cari makan di daerah Bukit Bintang. Makan mie.. apa yaa nama menunya.

Lalu kita jalan ke daerah wisata Batu Cave. Naik KRL di negara orang lebih wah kayaknya dibanding negara sendiri. Oh gue sempat kagum sama central station disana. Selain banyak banget orang, bagusnya semua terkoneksi. Sesampainya di Batu Cave cuaca cerah, dan wow banyak orang india. Perlu diketahui etnis mayoritas disana adalah Melayu, Tionghoa dan India. Baru pertama kalinya gue melihat tempat sembahyang dan ritual orang india secara langsung. Bahkan nemu yang pakai baju saree. Rasanya pengen dipegang.

Begitu lihat anak tangga yang jumlahnya buanyakk gue langsung pengen coba naik. Nisa ogah-ogahan dan mau nunggu di bawah. Yasudah gue naik sendirian. Ngos-ngosan lho pas sampai atas. Eh kirain sudah sampai paling atas, ternyata ada anak tangga lagi. Pas nengok belakang si Nisa udah berdiri di belakang. Ternyata dia ngikutin. Dia gak mau lanjut, gue nanjak sendirian lagi. Oh iya pas naik tangga dari bawah tadi, ada banyak monyet. Jangan keluarin makanan kalau gak mau di sergap.

Abis dari Batu Cave, kita ngemall lagi. Tapi ini beda, karena untuk masuk mallnya kita naik kapal kecil. Aduh nama mallnya lupa. Maaf yaa. Kapalnya sendiri ada jadwalnya jadi kami menunggu beberapa menit di pinggir danau. Gak bayar kok. Kreatif juga bikin mall diatas danau. Setelah turun dan masuk mall, yaa standar mall pada umumnya. Gue notice ada stall kebab Baba Rafi. Sudah go international ternyata.

Masih kuat jalan? lanjuutt.. Gue meminta (baca: memaksa) Nisa untuk main ke Petronas. Bok udah jauh-jauh kemari, masak gak main ke icon negaranya. Jadilan kita ke Petronas malam-malam. Wuih ternyata masih ramai pengunjung lho, rata-rata sih pada foto-foto. Biar afdol dan gak hoax bahwa gue pernah ke Malaysia, gak ketinggalan ikutan foto. Usaha banget lho foto dengan background menara Petronas full sampai ujungnya. Ini kondisi kaki udah sakit. Pas kami selonjoran dipinggir kolam, mau berdiri lagi untuk masuk mall cari makan, kaki kami terlalu kaku sampai gak bisa berdiri. Hahahaha.

Kelaparan malam-malam, cari foodcourt dalam mall di bawah Petronas. Ehm, karena gak prepare informasi apapun, jadi gue gak tahu mau makan apa. Ngikut pilihannya Nisa ajah. Lumayan enak rasanya. Selesai makan, kami pulang ke hotel.

Esok paginya adalah hari terakhir kami di Malaysia. Waktunya jajan oleh-oleh. Beli cokelat dan kacang almond. Gak foto-foto soalnya sibuk belanja, hehehehe. Waktu masuk ke toko Parkson (kalau gak salah) gue beli dompet merk Kickers buat si Mas. Kalau dihitung-hitung lebih murah daripada di Indonesia. Secara dompetnya doi lusuh banget. Juga beli parfum Clinique Happy for men, buat si Mas dan Atok. Tapi si Atok gak mau akhirnya dipakai sama si Mas. Nisa beli tas dan dompet wanita buat emaknya. Emak gue waktu diceritain begini, eh ngiler kepingin juga dibeliin dompet. Yaudah hari besoknya gue minta dianterin si Mas ke Pondok Indah Mall, buat beli dompet. Yah bilangnya mah oleh-oleh dari Malaysia.

Bandara Kuala Lumpur International memang bagus. Masih amazing lihat ceiling tinggi-tinggi dan penataan interiornya yang modern. Ada taman kecil di tengah bandara. Rasanya mata gue pengen melahap semua detil bagian bandara. Hmm jangan-jangan waktu itu gue kelihatan noraknya. Ah biarin.

Semua ini serba pengalaman pertama buat gue. Rasanya campur-campur. Uhuuyy..!!

Advertisements

Leave a Comment ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s