Hiburan MurMer

Ketika pikiran penat, pengen cari hiburan yang murah meriah selain mall. Apa yah.. museum? Hmm.. Museum merupakan tempat hiburan yang anti mainstream. Dalam arti, bukan untuk semua orang. Alias gak semua orang demen. Tapi gue mau coba-coba. Sekalian menghargai effort pengurusnya untuk memelihara warisan bangsa.

Rencana sih jalan-jalan melepas penat pekerjaan, tapi gak tahu mau kemana. Terus kita kepikiran buat datang ke Museum Layang-Layang. Kita tuh expect nothing. Gak googling dulu ini tempatnya kayak apa hehehe. Setelah kita datangin ternyata museum ini kids friendly banget. Dan emang tujuan museum ini buat edukasi terutama anak-anak. Gue ngerasa terlalu tua untuk menikmati hiburam macem gini, tapi cuek aja lah. Tanggung udah sampe sini. Kita beli tiket paling murah yaitu Rp 15.000 bisa nonton video sejarah layang-layang kurleb 15 menit, lihat museumnya dipandu oleh mas guide, dan terakhir bikin lanyangan. Bocah-bocah mesti seneng deh main kesini. Gue aja jadi pengen dateng ke festival layang-layang.. yang di pantai terus ada layangan segede gaban gitu.

Continue reading “Hiburan MurMer”

Ulang Tahun – Refleksi Diri

I’m growing old! Hmm sulit menentukan emosi, apakah harus senang atau sedih. Karena bercampur dikeduanya. Sebulan terakhir ini suasana hati beneran terbolak-balik.

Terlalu banyak yang dipikirkan serta dipertimbangkan. Dari paling penting sampai paling gak penting. Rasa khawatir yang begitu besar telah menyelubungi asa yang mustinya ada. Akankah gue bahagia? Pada akhirnya bagimana? Akhirnya sih kita semua menghadap Sang Maha Pencipta sih. Tapi bukan itu yang gue harapkan menjadi jawabannya. Maksud gue selama mengarungi kehidupan biasanya suka ada momentum, checkpoint, kejadian, atau apapun sebutannya, yang kerap hadir sebagai sebuah tanda perubahan. Dan ulang tahun adalah salah satunya. Nah di titik itu apakah gue berubah menjadi lebih baik, dewasa dan bahagia? Jadi mikir..

Continue reading “Ulang Tahun – Refleksi Diri”

Warna-Warni Kesukaan

Pantone udah merilis colour of the year of 2018 yaitu ultra violet, ungu-ungu deep dusty gitu. Ini warna kesukaan gue banget dari jaman SMP. Jadi dulu itu ceritanya di dalam pertemanan genk SMP, ada pemilihan warna favorit. Setiap anak musti beda gak boleh nyama-nyamain. Gue pilih warna ungu dong, secara suka dan jarang yang milih. Hahaha such a memory. Beranjak dewasa, semakin meluas nih spektrum fashion sense. Jadi makin beragam deh tuh kesukaan..

Ini nih favorite gue..

1. White shirt with blue jeans. Basic but best.

2. Clean cut, romantic, edgy, elegant. Mungkin empat hal ini bisa mendeskrisikan tipe fashion kesukaan gue.

3. Black is the new black. Nothing can replace black color. Period.

4. I love neutral color. Entah kenapa gue lemah sama warna dusty pink dan nude.

5. Glitter all the way. Something sparkly, glitzy, bling bling.. uuugghhh gak kuat..

6. Classic. You know classic is never wrong choice.

7. Etnik juga suka. Gue suka batik dan lukisan tangan.

8. Dark red or maroon. This is the newest favorite, i found red is amazing in the right way.

9. Stripe blue shirt. Ini dipadukan dengan warna putih, duh kelihatan keren instan deh.

Makan Apa di Jepang (2)

Selain makanan berat di postingan sebelumnya, kami beli beberapa makanan siap saji pengganjal perut yang dibeli di minimart terdekat. Tokonya banyak kok disana, hampir tiap kelurahan mungkin. Kalau disini semacam indoapril atau alfamei gitu lah. Hampir segala rupa barang kecil-kecil dijual.

IMG_20180511_064021.jpg

Ini onigiri biasa tapi isinya telur ikan salmon, nama kerennya salmon roe filling. Sebenernya isian onigiri tuh ada banyak macemnya, tapi karena takut non halal yaa ambil yang mainstream aja. Gue beli ini dan yang isi natto (lupa difoto). Beli karena penasaran. Rasanya? telur ikannya terlalu lembek menurut gue. Apa karena digencet dalam nasi jadinya gak meletus di mulut yah.. terus rasanya cenderung asin. Nah yang natto nih.. rasanya aneh menurut gue. Aftertastenya pahit gitu di mulut. First time banget lihat dan makan natto juga sih, jadi gak punya komparasinya. Misalnya makan yang versi freshnya mungkin lebih enak.

Continue reading “Makan Apa di Jepang (2)”

Makan Apa di Jepang (1)

Nyari makanan halal di Jepang gampang-gampang-susah. Karena memang kami gak prepare spesifik mau makan apa, so mengandalkan google maps aja. Makanan apa sih yang mudah dan murah, dan paling sering dicari orang.. onigiri! Untuk onigiri sendiri, gue lebih suka yang beli di Lawson dari pada di Seven Eleven. Yang beli di Daily Yamazaki, Shirakawa-go, juga enak. Pilihan rasa pun gak jauh-jauh, salmon flake dan tuna mayo. Tapi selain onigiri yang terkenal bagi para backpacker, inilah makanan yang kami makan.

IMG_20180509_181859.jpg

Kota pertama yang kami singgahi adalah Osaka. Nah di sekitaran area Dotonbori, ada Naritaya Ramen. Ramennya halal. Di foto kelihatannya sedikit yaa, tapi aslinya kenyang banget padahal pilih porsi reguler. Toppingnya rame banget.. ada daging ayam, telur, sayuran, selembar nori dan potongan tipis-tipis warna putih yang gue gak tahu namanya. Enak. Kuah kaldu dan mienya gue suka. Lucunya hampir seluruh tamunya tuh orang Indonesia. Minusnya.. yaa jadi gak berasa di Jepang. Lagu yang diputar aja Akad-nya Payung Teduh hehe. Teh hijaunya enak, gak bau amis atau aneh-aneh. Dimeja juga sudah disediakan air putih pakai es. Kayaknya di Jepang air putih tuh disajikan dingin gitu, bukan suhu ruangan. Tambah pesen fried gyoza, yang rasanya biasa aja.

Continue reading “Makan Apa di Jepang (1)”

Nonton WO Bharata

WO.. bukan wedding organizer, bukan juga walkover.

Tapi wayang orang. Iyes, Wayang Orang Bharata. Ada yang gak tahu? Silahkan di google dengan keyword Gedung Pertunjukan Wayang Orang Bharata Purwa.

Pengertian wayang orang itu sendiri kalian bisa google juga. Hehehe (tipe ngeblog males jelasin padahal tinggal copy paste).

Gue emang udah lama penasaran banget tentang WO Bharata ini. Ngajak teman sana sini gak ada yang mau. Gue harus maklum. Ini acara kebudayaan emang suka sedikit peminatnya jika dibandingkan dengan nonton black panther di bioskop XXI. Apalagi yang ditampilkan adalah budaya seni Jawa. Disampaikannya pun menggunakan bahasa Jawa halus kromo inggil. Yang gue gak ngerti, karena sanggupnya cuma sampai bahasa Jawa ngoko (kasar). FYI, my parents both came from Central Java so I used to listen bilingual language at home. One is Bahasa, and the other is Javanese of course. Though doesn’t make me speak Javanese fluently, but I do understand.

Continue reading “Nonton WO Bharata”

The New Year Resolution Club

Hai.. lama gak bersua..

Udah 2018 aja yah..

Detik malam pergantian tahun ini gue lewati dengan nonton firework dari pinggir jalan. Gratis. Beberapa jam sebelumnya, gue berkumpul di rumah salah satu teman bersama teman-teman dekat dari jaman SMA. My inner circle. I try to reenact the new year eve jaman muda dulu. Masak-masak, ngobrol-ngobrol. Tapi kami kemudian tahu, although we still the same person, kondisi sudah berubah. Ada anak krucil yang musti pulang duluan. Then I understand… The memory we preserved is the prettiest memory for ourself. Mengulang pun rasanya sudah tidak sama. Gue bertanya dalam hati, kenapa gue kepingin kayak dulu lagi, jika semua bergerak maju. Sambil nonton firework, gue merenung. My job is to create new pretty memories, in my own path.

Tahun baru, resolusi baru. Katanya..

Continue reading “The New Year Resolution Club”

Short Gateaway: Lombok

Ini cerita singkat mengenai liburan yang juga (sangat) singkat. Gak bisa cerita banyak karena kurrraaaangg banggeedh liburannya huhuhu. Kalau ada rejeki nanti, mau banget balik lagi. Oh Lombok, I miss you.

Diawali dengan berita duka.. ketinggalan pesawat. Seumur-umur baru kali ini ngerasain gak bisa check in. Hiks. Rasanya kayak.. gak ngerasain apa-apa saking shocknya. Setelah beberapa jam baru terasa hati seperti teriris-iris pedih.

Nah ini tujuan pergi ke Lombok ini sebetulnya untuk kondangan. Memang saat itu sedang musim kawin hehe.. Jadi alasan kami bela-belain terbang kesana ada dua, menghadiri undangan sekalian jalan-jalan. Walaupun acara sedikit rusak karena satu hari pertama dihabiskan dengan nongkrong di bandara Soekarno-Hatta, menunggu flight selanjutnya (tiket pesawat dibeli dadakan macam horang kaya tahu bulat). Tapi kayaknya justru ini deh yang bikin gemes penasaran pengan balik lagi. Dengan tidak ketinggalan pesawat tentunya.

Continue reading “Short Gateaway: Lombok”